Ajak Siswa Merenung, Merasakan, dan Membatinkan Jiwa Compassion

124

Menilik Persiapan Malam Budaya SMA Kolese Loyola Semarang

Mengulang sukses Malam Budaya 2012 bertajuk The Sound Of Music, SMA Kolese Loyola Semarang pada Sabtu, 10 Mei 2014 di Grand Ballroom, Hotel Horison, Simpang Lima Semarang ini, kembali menggelar panggung spetakuler. Yakni drama musikal The Story of Compassion Must Begin dengan mengambil basic sebuah film Les Miserables. Ini adalah ekspresi seni, kolaborasi kemampuan siswa di bidang musik, tari, gamelan dan lainnya. Seperti apa?

HAMPIR setengah tahun ini, ratusan siswa dan guru diharuskan membagi waktu antara jadwal rutin sekolah dan latihan drama musikal yang selalu digelar tiap dua tahun sekali. Total pemain sebanyak 127 siswa dan 223 panitia, terus mengasah kemampuan dan membangun kerjasama tim untuk sebuah karya besar dua tahunan.
“Memang harus bisa membagi waktu antara sekolah dan meningkatkan kemampuan di dalam drama musikal ini. Di sela-sela belajar, sambil terus latihan olah vokal,” kata pemain utama, Allessandro Renzo Reynaldo, 17.
Renzo, begitu sapaan akrabnya, terpilih setelah mengikuti audisi yang digelar pihak sekolah. Siswa kelas 11 jurusan IPA yang bercita-cita menjadi dokter ini, memang hobi menyanyi. Meski kegiatan ekstra kurikuler yang diikutinya lain, yakni voli dan fotografi. ”Makanya ketika lolos audisi dan terpilih sebagai pemain utama, terus latihan olah vokal, menyanyi atau menyesuaikan nada dan ritme,” tuturnya penuh percaya diri.
Baginya, ikut drama musikal memberikan pengalaman yang cukup berharga. Selain tambah percaya diri, memiliki pengalaman cara membangun kerjasama sesama anggota tim. “Ini sebuah kebanggaan yang tak terlupakan,” tuturnya.
Sedangkan Kepala SMA Kolese Loyola, Br Yustinus Triyono SJ, menuturkan program malam budaya ini merupakan wujud dari pendidikan humaniora yang selalu memperhatikan segi perasaan, imaginasi, dan kreativitas. Pendidikan tersebut tak sepenuhnya di dapat di kelas, tapi lewat sebuah program kegiatan. ”Ini cara sekolah mendidik anak-anak yang sesuai dengan visi misi SMA Loyola, yakni unggul di bidang akademik, memiliki hati nurani yang baik dan peduli sosial,” tandasnya.
Karena itulah, melalui pagelaran seni yang mengambil inspirasi dari pergulatan kemanusiaan yang tertuang dalam kisah Les Miserables, seluruh siswa diajak merenungkan, merasakan, dan membatinkan jiwa compassion (belas kasih, red). “Lewat drama musikal malam budaya ini, kami ingin mengantarkan generasi muda membentuk diri menjadi pribadi yang lembut hati dan peduli pada kehidupan sesama. Di tengah kondisi masyarakat yang beragam dan banyak persoalan,” tuturnya.
Ketua panitia Malam Budaya, Benedictus Singgih Prasetyo dan Koordinator Pelatihan, Harry Setianti Sunaryo, menambahkan, animo penonton cukup tinggi. Dari 1500 tiket yang disediakan, sudah hampir laku semua. “Kami mempersilahkan masyarakat umum yang ingin menonton, dengan tiket yang masih tersisa ini,” tuturnya.
Sementara itu, film Les Miserables yang menjadi basic opera ini, berlatar sejarah revolusi Perancis. Film ini bercerita mengenai seorang narapidana, bernama Jean Valjean yang dihukum karena mencuri sepotong roti. Setelah ia bebas, ia mendapat penolakan dari masyarakat karena masa lalunya. Hingga tibalah dia di suatu biara, dimana ia bertemu dengan seorang Uskup yang memberinya kesempatan dan kepercayaan untuk tinggal. (sct/ida)

Tinggalkan Komentar: