Juga Truk Pasir Melintas       

MUNGKID– Sejumlah desa di lereng Gunung Merapi bersikukuh melarang aktivitas penambangan di wilayahnya. Tidak hanya itu, truk pengangkut pasir juga dilarang melintas.
Ketiga desa itu adalah Desa Sengi, Sumber, Keningar Kecamatan Dukun. Ada yang memakai perdes sebagai payung hukum ada juga yang memasang portal di ujung desa.
“Kita sangat mengapresiasi desa-desa ini. Karena bagaimanapun mereka mau menjaga wilayahnya dari kerusakan yang diakibatkan galian golongan C,” kata Camat Dukun Siti Zumrotun, di sela-sela pemasangan portal di Desa Sengi, kemarin.       
Larangan di tiga desa ini, kata dia sudah berjalan. Di Desa Sengi ada dua portal, dan Desa Keningar satu portal. Sedangkan di Desa Sumber ada dua portal larangan.
”Seperti yang kita ketahui, status Gunung Merapi saat ini sudah naik menjadi waspada. Pada saat dibutuhkan nantinya, jalur evakuasi mestinya bisa langsung siap dan dipakai. Dan kita harus mencegah kerusakan terjadi pada jalur evakuasi karena dilewati truk pasir, terutama dengan pemasangan portal seperti ini,” jelas Siti.
Pantauan koran ini, di Desa Sengi, Kecamatan Dukun, mulai ditutup portal setinggi 220 centimeter dan lebar 4 meter, Kamis (8/5) kemarin. Langkah tersebut diambil untuk menyikapi banyaknya truk pasir yang setiap hari melintas di jalan tersebut.
Penutupan ini juga menyikapi retaknya jembatan Tringsing serta sabo dam oprit yang berada di desa setempat. “Ini sudah menjadi kesepakatan seluruh warga. Truk dan penambangan dilarang di desa kita,” kata Kepala Desa Sengi, Nur Iksan, kemarin.     
Bahkan sejak lama di desanya telah terbit peraturan desa yang melarang hal itu. “Kalau dibiarkan akan merusak lingkungan dan jalan. Padahal di sini jalur evakuasi. Warga Boyolali sebagian juga lewat sini saat Merapi meletus,” kata dia.
Penutupan portal dengan menggunakan kunci gembok akan berlangsung hingga waktu yang tidak ditentukan.  Pemerintah desa (pemdes) tidak akan menempatkan petugas ataupun penjaga portal tersebut.
“Sesuai kesepakatan desa, BPD, dan warga, portal akan selalu tertutup dan tidak dibuka untuk umum, kecuali warga setempat ada yang benar- benar harus lewat portal tersebut untuk kepentingan tertentu. Kunci ada di balai desa, jika ada warga yang mau melintas harus izin dulu ke balai desa,” tegas Nur.
Dia menambahkan, sebenarnya portal sudah dibangun sejak hari Sabtu (3/5) kemarin oleh Dinas Pekerjaan Umum Energi Sumber Daya Mineral (DPUESDM) Kabupaten Magelang. “Kalau sudah ada portal ini trruk tidak bisa melintas di atas jembatan dan sabodam oprit,” kata dia.     
Kapolsek Dukun AKP Eko Mardiyanto mengatakan pihaknya mengapresiasi aksi yang dilakukan warga itu. Menurutnya, hal itu akan sedikit mengurangi kerusakan jalan evakuasi.(vie/lis)