Musim Pancaroba, Semarang Panas

190

Suhu Udara Dekati Ekstrim

BALAI KOTA–Masa pancaroba atau peralihan musim hujan ke musim kemarau membuat suhu udara meningkat tajam. Seperti yang terjadi di Kota Semarang dalam beberapa hari terakhir. Jika dirasakan, hawa panasnya di atas normal membuat tubuh menjadi gerah. Tak hanya siang hari, tapi juga malam hari. Kondisi ini banyak dikeluhkan warga.
“Ya, akhir-akhir ini kok panas banget ya. Di dalam ruangan saja panasnya minta ampun, apalagi di luar, mataharinya sangat terik,” keluh Elionora Setyorini, warga Pedurungan Tengah, Semarang.
Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jateng Reni Kraningtyas mengatakan, hawa panas yang melanda Kota Semarang beberapa hari terakhir ini dipengaruhi oleh musim pancaroba atau peralihan musim dari penghujan ke kemarau. “Kalau dilihat dari tanggal 4 Mei lalu atau bahkan sebelumnya, suhu udara sudah menunjukkan angka 34 derajat celcius. Lebih tinggi dari suhu maksimum biasanya yang hanya berkisar antara 30-32 derajat celcius,” terang Reni kepada Radar Semarang, kemarin (8/5).
Menurut Reni, suhu 34 derajat celcius memang mendekati kategori ekstrim. Sebab, suhu dikatakan ekstrim jika berkisar di atas 35 derajat celcius. “Hari ini (kemarin) suhu berada di angka 34,6 derajat celcius. Kurang 0,4 saja sudah masuk kategori ekstrim. Peningkatan suhu ini kalau dilihat dari meteorologi, sudah memasuki musim kemarau,” katanya.
Pihaknya memprediksi pertengahan Mei ini sudah memasuki musim kemarau. Angin timur yang sifatnya kering tidak banyak membawa air mulai bertiup dan posisi matahari sudah diposisi utara.
“Kondisi itu yang menyebabkan suhu menjadi panas dan sangat menyengat di kulit. Suhu minimum saat pagi sudah mencapai 28 derajat celcius. Padahal biasanya suhu minimum saat pagi rata-rata 25 sampai 26 derajat,” terangnya.
Dikatakan Reni, meski memasuki musim kemarau, potensi hujan sore dan malam masih ada. Hanya intensitasnya sedang, di bawah 50 milimeter. Hal itu biasa terjadi dalam satu dasarian atau 10 hari pertama di awal musim kemarau. Dan biasanya disertai petir.
“Kalau kita perkirakan, musim kemarau pertengahan Mei ini, bisa saja terjadi hujan saat sore dan malam dengan intensitas di bawah 50 milimeter. Memang pemahamannya berbeda dengan orang awam. Kalau dikatakan musim kemarau maka ya tidak ada hujan sama sekali. Sebenarnya tidak seperti itu. Sama saja dengan musim hujan, pasti ada kala tidak hujan sama sekali, begitu dengan musim kemarau, pasti ada hujan, walaupun intensitasnya rendah,” jelas Reni.
Sepanjang musim kemarau, lanjut Reni, akan terjadi peningkatan suhu maksimal. Diperkirakan suhu maksimum itu terjadi antara Agustus-September. Suhu akan meningkat hingga 35 sampai 36 derajat celcius.
“Bulan Agustus-September kita prediksi Elnino lemah (fenomena alam yang bisa mempengaruhi berkurangnya intensitas curah hujan). Elnino kalau pada musim penghujan akan mengurangi intensitas curah hujan, tapi kalau Elnino pada kemarau maka akan terasa lebih kering dari biasanya,” tandas Reni.
Terpisah, Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit DKK Kota Semarang Dr Mada Gautama mengatakan, saat pancaroba seperti ini daya tahan tubuh mudah menurun. Sehingga perlu dijaga dengan istirahat yang cukup dan mengonsumsi makanan yang bergizi. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga daya tahan tubuh agar tetap stabil. Dia juga memberikan sedikit tips agar daya tahan tidak menurun, seperti makan teratur, minum secukupnya, makan makanan yang bergizi, perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk selalu mencuci tangan setiap kali akan makan.
“Hindari makanan yang mudah basi, contoh makanan bersantan. Karena santan sendiri cepat sekali basi, sehingga masakan bersantan harus seringkali dipanasi dengan suhu tinggi. Selain itu sebisa mungkin hindari makan makanan yang berminyak,” pesannya. (zal/aro)