Warga Tuntut Pohon Ditanam Lagi

135

Kasus Jual Beli Pohon Makam


UNGARAN- Permasalahan penjualan pohon Kamboja dan Pakis di makam Dliwang, Ungaran Barat yang merusak sejumlah makam masih berlanjut. Perwakilan warga utamanya para ahli waris makam yang rusak, Rabu (7/5) siang mendatangi kantor Kelurahan Ungaran. Warga mendesak Ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat Kelurahan (LKMK) Ungaran Agung Wibowo yang menjual pohon untuk mundur dari jabatannya. Selain itu warga mendesak agar 5 pohon yang sudah dicabut agar ditanam kembali.
Di kantor kelurahan Ungaran digelar musyawarah untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam musyawarah dihadiri perwakilan warga, Ketua LKMK Ungaran Agung Wibowo, pengusaha taman yang membeli pohon, Hartoyo, serta dihadiri pejabat muspika Ungaran Barat dan anggota DPRD Kabupaten Semarang sebagai penengah.
“Kami ahli waris makam keberatan jual beli pohon yang tumbuh di makam dijual oleh Agung Wibowo. Sebab pencabutan pohon berukuran besar-besar itu mengakibatkan kerusakan lingkungan makam. Apalagi selama ini kami tidak pernah diajak musyawarah,” ungkap perwakilan warga, Joshua Wicaksono, 30, warga Sembungan Utara.
Joshua mengatakan, Agung tidak memberikan contoh yang baik. Sehingga warga mendesak agar Agung bersedia mengundurkan diri sebagai Ketua LKMK Ungaran. Selain itu warga meminta Agung menyampaikan permohonan maaf melalui media massa. Warga juga meminta pohon yang dicabut tidak boleh diangkut dan ditanam kembali.
Sementara itu Hartoyo juga akan menuntut Agung. Sebab Agung mengatakan sudah ada musyawarah dan kesepakatan warga. Selain itu Hartoyo juga sudah menemui RT dan RW untuk meminta izin.
“Saya tidak asal-asalan membeli terus mencabuti pohon. Saya sudah izin RT dan RW, kebetulan Pak RW itu Pak Agung Wibowo. Katanya dia tanggung jawab untuk masalah ini. Saya tentu akan menuntut Pak Agung untuk mengganti kerugian kami sekitar Rp 23 juta, karena pohon tidak bisa dibawa. Padahal kami keluar biaya tenaga kerja dan membeli pohon,” kata Hartoyo.
Anggota DPRD Kabupaten Semarang, Mas’ud Ridwan yang turut hadir dalam rapat tersebut mengatakan, semestinya tuntutan warga harus dipenuhi oleh pihak yang merasa menjual pohon di makam.  Sehingga permasalahan tidak melebar ke mana-mana. “Semua tergantung masyarakat yang dirugikan, kalau tidak segera diselesaikan dan masyarakat menempuh jalur hukum itu hak mereka,”ujarnya.
Sementara itu Agung yang juga pengurus makam Dliwang mengaku siap menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. Bahkan Agung juga siap jika akhirnya dibawa ke ranah hukum. Jika warga mendesak agar dirinya mundur sebagai ketua LKMK, menurut Agung, bukan pada tempatnya. Sebab masalah LKMK harus diselesaikan melalui jalur musyawarah kelurahan (Muskel).

“Ini tidak ada hubungannya dengan LKMK, soal LKMK itu harus melalui Muskel. Saya menduga ini ada kepentingan pribadi ingin menjatuhkan saya,”
 
Sebab, Agung mengaku sudah melakukan sosialisasi sebelum menentukan penjualan pohon. Bahkan setelah diketahui ada kerusakan makam, pihaknya sudah meminta maaf dan memperbaiki makam yang rusak. “Saya berharap ada pertemuan ulang antara ahli waris dengan kami yakni RW 3 dan dijembatani Muspika sehingga ada penyelesaian secara kekeluargaan. Kalaupun dibawa ke ranah hukum kami pun siap sebagai warga negara yang baik,” kata Agung.(tyo/ton)