Ribuan Warga Bentrok dengan Polisi


Tolak Penahanan Cahyadi dan Carman


BATANG-Ribuan warga dari empat desa yang meliputi Desa Ponowareng, Desa Karanggeneng, Desa Roban Barat dan Roban Timur, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, tumplek blek di kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Batang, Selasa (6/5) siang kemarin. Mereka datang dengan menggunakan truk bak terbuka, angkutan pedesaan dan puluhan sepeda motor.
Unjuk rasa kali ini merupakan bentuk dukungan terhadap dua orang, Cayadi Bin Rabu, 54, dan Carman Bin Tuyah, 52, yang ditahan oleh Kejari Batang, beberapa waktu hari lalu. Atas kasus bentrokan 4 April 2012 lampau terkait rencana pembangunan PLTU Batang.
Semula, aksi yang menuntut pembebasan Cahyadi dan Carman berjalan damai, hanya orasi di halaman kantor Kejari. Bahkan, massa semula hanya duduk-duduk, berubah ricuh. Setelah mengetahui bahwa Cahyadi dan Carman dibawa ke Rumah Tahanan Lapas Rowobelang oleh mobil tahanan Kejari Batang untuk menjalani hukuman penjara selama 7 bulan, tanpa dipotong masa tahanan.
Massa langsung memblokir Jalan Raya Pantura Batang, tepat di depan kantor Kejari. Bahkan, jalur Jakarta-Semarang yang melalui Jalan Jendral Sudirman Batang pun macet, hingga lebih dari 10 kilometer.
Aksi saling dorong antara massa yang menduduki jalan raya pantura dengan petugas Polres Batang yang dibantu Brimob Kota Pekalongan, tak terhindarkan. Akibat bentrokan tersebut, sedikitnya 5 petugas keamanan Polres Batang, mengalami luka di kepala karena terkena batu yang dilempar warga.
Koordinator Aksi, Roidi, 32, warga Desa Karanggenang RT 02 RW 01, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang mengatakan bahwa warga menilai aksi penahanan Cahyadi dan Carman adalah murni kasus pembebasan lahan untuk pembangunan PLTU, bukan kasus pidana. Cahyadi dan Carman adalah warga yang tidak mau menjual tanahnya, untuk pembangunan PLTU. “Cahyadi dan Carman adalah warga yang menolak PLTU, sehingga mereka ditahan Kejari. Penahanannya sarat dengan kepentingan,” kata Roidi, ketika berorasi.
Roidi mengancam, jika Kejari tidak membebaskan Cahyadi dan Carman, akan mengerahkan 10 ribu massa untuk memblokir jalan raya pantura. “Kami akan melakukan aksi serupa dengan jumlah massa yang lebih besar, guna pembebasan Cahyadi dan Carman,” tandas Roidi, usai orasi.
Sementara itu, Kepala Kejari, Martono, menegaskan bahwa penahanan terhadap Cahyadi dan Carman adalah menindaklanjuti surat Keputusan Mahkamah Agung (MA) bahwa mereka berdua harus menjalani masa penahanan selama 7 bulan tanpa potong masa tahanan. Dan penahanan ini, murni kasus tindak perusakan pintu gerbang tempat peribadatan di Desa Karanggeneng, bukan terkait dengan proyek PLTU. ”Saya hanya menjalankan perintah putusan Mahkamah Agung, tanpa ada kepentingan apapun,” tegas Martono, di hadapan ribuan para pendemo.
Martono menandaskan bahwa kedatangan Cahyadi dan Carman ke kantor Kejari atas kesadaran sendiri dengan di antar ratusan warga lainnya yang simpati. “Cahyadi dan Carman diajukan ke meja hijau dengan jeratan pasal 170 KUHP. Kami menilai bahwa mereka sangat kooperatif dan mendatangi kantor Kejari untuk menjalani masa hukuman sesuai putusan MA,” tandas Martono.
Sementara itu, kasus penahanan Cahyadi dan Carman bermula adanya bantuan dari PT Bima Sena Indonesia (PT BSI) ke masjid di Desa Karanggenang. Yakni, berupa bangunan pagar masjid senilai Rp 30 juta pada Februari 2012 lalu. Setelah pagar masjid selesai dibangun, petugas PT BSI memasang bendera PT Bima Sena Indonesia, dipagar masjid tersebut. Padahal kala itu, situasi antar warga Desa Karanggeneng dengan PT BSI kurang kondusif, lantaran ada yang pro dan kontra dengan pendirian PLTU dan PT BSI sebagai pelaksana.
Kemudian Cahyadi dan Carman yang merupakan ulama desa setempat menurunkan bendera PT BSI tersebut. Sementara itu, Kadar, 43, warga desa setempat, tidak setuju dengan ulah Cahyadi dan Carman. Kadar langsung membawa Cahyadi ke kantor Balai Desa. Namun entah bagaimana, saat Kadar keluar dari kantor Balai Desa, wajah Kadar terluka penuh darah, hingga akhirnya Cahyadi dan Carman dilaporkan warga ke Polres Batang. Sehingga kasus tersebut berlanjut di Pengadilan Negeri Batang dan Mahkamah Agung. (thd/ida)

Ingin Berkomentar?