SUMURBOTO — Tradisi pengantin Semarangan sudah tak banyak dikenal masyarakat Kota Semarang. Pernikahan dengan adat Surakarta, Jogjakarta atau modern lebih sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Agar tradisi ini tak lenyap, DPC Himpunan Perias Pengantin (Harpi) Melati Kota Semarang dan PKK Kecamatan Banyumanik, Selasa (6/5) menggelar peragaan pengantin Semarangan di Aula Kantor Kecamatan Banyumanik.
Ketua DPC Harpi Melati ranting Banyumanik Yustin Sulistyo mengatakan, pergelaran ini dilakukan untuk mengenalkan tentang busana pengantin Semarangan pada masyarakat Banyumanik. Mengingat saat ini minat calon pengantin menggunakan busana Semarangan sangat minim. ”Di wilayah Kecamatan Banyumanik, pengantin Semarangan masih dianggap bukan sebagai tradisi. Untuk itu perias memiliki andil untuk mengenalkan budaya yang dimiliki Kota Semarang ini,” akunya.
Yustin mengaku, adat Semarangan biasanya digunakan warga di wilayah Semarang Tengah, seperti Pekojan dan Kranggan. Pengantin Semarangan atau biasa disebut dengan Pengantin Kaji merupakan gabungan dari tiga unsur, yakni Jawa, Arab, dan Tionghoa. ”Salah satunya yang khas pengantin Semarangan adalah pemakaian endhok kremek atau bunga kanthil yang berwarna kuning menjadi ciri khas,” akunya.
Ketua TP PKK Kecamatan Banyumanik, Annisa Kukuh Sudarmanto mengatakan, sosialisasi ini sengaja dilakukan untuk melestarikan budaya lokal yang dimiliki oleh Kota Semarang, salah satunya mengenai budaya pengantin Semarangan. ”Justru pengantin Semarangan itu memiliki ciri khas tersendiri yang merupakan gabungan dari tiga unsur. Harapannya dengan peragaan ini, busana Semarangan bisa dikenal lagi,” katanya. (hid/ton/ce1)