Edy, Atlet Panco Kota Semarang yang Juara Internasional

Kota Semarang ternyata memiliki atlet panco yang langganan juara di tingkat nasional maupun internasional. Namanya singkat, Edy. Siapa dia?

NURUL PRATIDINA

SEJUMLAH medali dan piala berderet rapi di salah satu sudut rumah Edy di Jalan Tlogo Sarangan I Kavling 6 Perumahan Pondok Indah Semarang. Piala dan medali itu hasil dari sejumlah kejuaraan panco tingkat nasional maupun internasional mulai 2003 hingga yang terbaru Februari 2014.
“Kalau panco sebetulnya saya suka sejak kecil, tapi kalau mulai ikut kejuaraan ya sekitar lima belas tahunan lalu,” kata suami Lusy Indah Nitisari ini kepada Radar Semarang.
Pria kelahiran Belitung, 2 Juni 1974 ini mengaku tertarik panco saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sekitar tahun 80-an. Saat itu, panco memang sedang ngetren. Ia bersama sejumlah rekan seangkatannya kerap adu panco.
“Tadinya saya kalah dengan teman yang badannya lebih gede. Saya penasaran, lalu ajakin dia panco terus, sampai akhirnya saya bisa menang. Dari situ, saya mulai tertarik dengan panco,”kenangnya.
Bapak tiga anak ini mulai mengikuti kejuaraan panco sejak pertengahan 2003. Saat itu, salah satu stasiun televisi swasta mengadakan lomba panco tingkat nasional. Kali pertama mengikuti, Edy langsung menyabet gelar juara.
Dari situ, ia mulai rajin mengikuti berbagai kejuaraan di sejumlah daerah. Baru-baru ini ia juga baru saja menyabet gelar juara di Balikpapan International Armwrestling. Kejuaraan ini cukup bergengsi, karena diikuti peserta dari luar negeri. Di antaranya Rusia dan Malaysia.
Ada 5 kelas yang dimainkan di kejuaraan ini. Yakni, kelas 65 kg ke bawah, kelas 65– 75 kg, 75– 85 kg, 85– 95kg serta kelas di atas 95 kg. Dari lima kelas tersebut, 4 kelas dijuarai oleh peserta dari luar negeri.
“Nah, saya menang di kelas 65 kg ke bawah, dan itu dua tahun berturut-turut. Jadi, kejuaraan ini menurut saya sangat berkesan,”ujarnya.
Bagi Edy, dalam panco yang paling menantang bagi dirinya saat bisa mengalahkan lawan dengan kelas yang lebih tinggi. Karena, menurutnya, disitulah seni dari panco. Kekuatan mutlak, tapi teknik juga harus dimainkan.
“Belum tentu badannya besar tapi bisa menang lawan yang badannya kecil. Memang kekuatan tulang dan otot itu perlu, tapi kita juga harus bisa bermain taktik. Taktik ini yang perlu dilatih dari pengalaman mengikuti kejuaraan,”katanya.
Alumnus SMEA Negeri 1 Tanjung Pandan ini mengaku pernah menyabet gelar juara dari beberapa kelas berbeda dalam satu kejuaraan. Hal ini juga yang sempat membuat beberapa peserta mengiranya menggunakan ‘ilmu’ khusus.
“Waktu itu, ada kejuaraan nasional, saya ambil yang kelas saya (65 kg ke bawah), dan dua kelas lain di atasnya. Ketiga kelas itu saya masuk tiga besar. Setelahnya, tiba-tiba ada peserta yang mendekati dan tanya saya pakai ajian apa. Ya, saya jelaskan, itu cukup jaga kesehatan, latihan dan mematangkan teknik,”ujarnya.
Hal ini juga yang membuat Edy berupaya menggeliatkan panco di Kota Semarang. Menurutnya, dalam menekuni olahraga ini, perlu menjalani gaya hidup sehat. Tak hanya saat mendekati kejuaraan, tapi juga harus diasah jauh-jauh hari.
“Namanya kekuatan tulang dan otot ya perlu dijaga dengan gaya hidup sehat, dan itu tidak bisa instan,”tandasnya.
Edy mengaku pernah mengalami cedera, otot sobek, maupun terkilir saat mengikuti lomba. Namun hal tersebut tak membuatnya kapok. Baginya panco tetap olahraga yang menarik, meski kadang juga diprotes oleh sang istri.
“Soalnya kalau kejuaraan-kejuaraan gitu, istri saya tinggal. Jadi, dia suka protes. Tapi selebihnya dia mendukung, karena tahu ini hobi yang positif,”ujarnya.
Ke depan, Edy berharap panco bisa lebih diperhatikan oleh pemerintah. Menurutnya, olahraga ini di Kota Semarang juga sudah kembali menggeliat. Terbukti, dengan suksesnya even kejuaraan panco nasional yang digelar di Kota Atlas akhir tahun lalu.
“Dalam waktu dekat ini, kami juga berencana mengikuti kejuaraan di Jepang. Sayang, sejauh ini masih terkendala dana. Jadi, semoga lebih diperhatikan dan bisa lebih berkembang lagi,”harapnya. (*/aro)