Lahan Korban Mafia Tanah Dieksekusi

137

BAWEN–Pengadilan Negeri (PN) Ungaran akhirnya berhasil mengeksekusi tanah seluas 602 meter persegi yang di atasnya berdiri rumah Surawi Karman, 100, dan Lagimin, 55, di Lingkungan Glodogan RT 04 RW II, Harjosari, KecamatanBawen. Eksekusi yang semula akan dilakukan pada 31 Oktober 2013 gagal dilaksanakan lantaran anak-anak Surawai menolak, sebab menduga ada kejanggalan.
Dalam proses eksekusi yang kedua, Selasa (6/5) siang, pihak termohon eksekusi akhirnya pasrah ketika juru sita yang dikawal anggota Dalmas Polres Semarang mengerahkan pekerja untuk mengangkut seluruh barang di dalam rumah tersebut. Saat ini Lagimin beserta istri dan anak-anaknya serta kedua orang tuanya Surawi Karman, 100, harus mengontrak rumah. Sebab dua rumah yang mereka tempati, harus sudah dikosongkan.
Lagimin mengaku sudah pasrah. Sebab perjuangannya melawan mafia tanah akhirnya kandas. Bahkan ketika berupaya mendapatkan lahan itu dengan cara mengikuti lelang yang digelar bank, tetap tidak membuahkan hasil. Selain itu Lagimin juga sempat melaporkan dugaan penipuan oleh Eko, tetangganya, hingga mengakibatkan tanahnya disita bank. Namun upaya melapor ke Polsek Bawen gagal karena petugas tidak mau menerima laporannya.
“Saya sudah lelah, ke sana kemari mengurus masalah ini. Bahkan sudah lapor ke Polsek Bawen masalah penipuan tanah yang dilakukan Eko. Tetapi laporan kami tidak ditanggapi. Katanya, salahnya sendiri sertifikat dipinjamkan. Lalu saya disuruh lapor ke Polda di Semarang. Sudah ke sana ke mari, hasilnya tetap seperti ini,” tutur Lagimin pasrah, sembari menyaksikan barang-barang di rumahnya dikeluarkan dari rumah yang sudah puluhan tahun ditempatinya itu.
Lagimin siang itu hanya meminta pengosongan rumah tua yang ditempati orang tuanya ditunda dan akan dilakukannya sendiri pada sore hari. Sebab dia khawatir jika nanti kedua orang tuanya tahu, akan kaget hingga menyebabkan kejadian yang tidak diinginkannya. “Silakan dikosongkan, tetapi untuk memindahkan orang tua biar kami yang melakukan. Kami khawatir terjadi sesuatu terhadap mereka,” tutur Lagimin.
Dengan terbata-bata Lagimin bercerita, perkara tersebut berawal sekitar tahun 2010, ketika itu anaknya Sudibyo akan kerja di tempat Eko Sigianto, tetangganya yang mempunyai pengolahan limbah kain dan kapas dari pabrik. Kepada Sudibyo, Eko meminjam sertifikat sebagai jaminan di bank. Tetapi Eko tidak membayar angsuran sehingga rumah tersebut dilelang bank dan dimenangkan Bernadus Agung Budi Kristantio warga Tlogosari Kulon Kota Semarang senilai Rp 67.500.000.
“Orang tua saya sudah tua, dia tidak bisa baca dan tidak paham masalah perjanjian tersebut, tetapi diminta menandatanganinya. Masalah itu kami ketahui setelah bank akan melakukan penyitaan. Kami berupaya mengurus ke bank di Semarang dan lapor polisi tapi tidak berhasil. Akhirnya kami hanya bisa pasrah. Tidak hanya saya ada juga saudara yang sawahnya hilang karena ditipu Eko,” kata Lagimin.
Sekretaris Panitera PN Ungaran, Mat Djuskan mengatakan, eksekusi ini berdasarkan surat Penetapan Eksekusi Nomor 08/Pen.Pdt.Eks/2012/PN.Ung, yakni agar lahan tersebut dikosongkan sesuai permohonan eksekusi dari Agung Budi. Sebelum dilakukan upaya eksekusi, kedua belah pihak sudah dipanggil untuk mediasi. Bahkan sempat dilakukan eksekusi namun ditunda.
“Pemohon eksekusi adalah pemenang lelang bank, sehingga kami melakukan upaya eksekusi. Kami sudah berembug dengan termohon, agar eksekusi berlangsung secara kekeluargaan. Ternyata termohon merespon baik dan menyerahkan secara sukarela, sehingga tidak ada upaya paksa,” tutur Mat Djuskan.
Ada satu objek eksekusi yang di atasnya berdiri dua rumah. Satu rumah berhasil dikosongkan dan satu rumah masih belum dikosongkan. Sebab pihak termohon meminta untuk mengosongkan sendiri karena di rumah tua itu ditempati kedua orang tuanya yang sudah tua. (tyo/ton)