Siswa SMP Unas di Bawah Bayang Merapi

129

Ujian Menginduk, 11 Siswa Dikarantina

BOYOLALI–Pelaksanaan ujian nasional (Unas) tingkat SMP sederajat di lereng Merapi berjalan sesuai rencana. Meski status aktivitas gunung tersebut dinyatakan waspada. Salah satu sekolah di lereng Merapi yang menggelar unas adalah SMPN 2 Selo. Di sekolah ini, sebanyak 76 siswa kelas IX mengikuti Unas hari pertama kemarin (5/5) dengan lancar. Distribusi naskah soal dan lembar jawab komputer (LJK) juga berjalan sesuai jadwal.
Meski sempat khawatir dengan kenaikan status Merapi, namun para guru dan karyawan SMPN 2 Selo tetap beraktivitas sesuai jadwal. “Secara umum, seluruh pelaksanaan Unas berjalan sesuai jadwal. Bahkan nyaris tidak ada kendala berarti. Meski kami sempat khawatir dengan kenaikan status waspada Merapi,” ungkap Kepala SMPN 2 Selo, Sri Widada saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (5/5).
Bahkan, lanjut dia, pelaksanaan Unas hari pertama kemarin tidak ada siswa yang izin, atau bahkan terlambat. Utamanya, para siswa yang berasal dari Desa Tlogolele. Pasalnya, setelah pembangunan cekdam Kaliapu selesai, siswa yang berasal dari kawasan rawan bencana (KRB) II itu datang tepat waktu.
Hal ini berbeda dengan pelaksanaan Unas pada saat cekdam Kaliapu belum selesai dibangun. Saat itu, kata dia, ada sejumlah siswanya terpaksa harus menginap di rumah kerabat yang dekat dengan sekolah. Hal ini dilakukan agar siswa tersebut tidak terlambat masuk sekolah saat Unas berlangsung. “Cekdam Kaliapu sangat membantu siswa untuk datang ke sekolah tepat waktu,” jelasnya.
Sementara itu, sebanyak 11 siswa SMP terbuka terpaksa dikarantina. Pasalnya, kegiatan Unas ini menginduk di SMPN 1 Cepogo. Mereka menginap di sekolah induk tersebut selama Unas berlangsung. Para peserta itu dikumpulkan sejak Minggu sore.
Kepala SMPN 1 Cepogo, Hanik Shofiah menjelaskan, pihak sekolah induk juga menyediakan keperluan makan dan minum selama karantina. Langkah ini dilakukan untuk mempermudah koordinasi. Selain itu, agar para siswa tidak terlambat datang ke sekolah. “Mereka berasal dari Desa Sidorejo dan Dusun Wonopedhut, Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo,” katanya, saat menerima kunjungan Komisi IV DPRD Boyolali, kemarin.
Selama dikarantina, para siswa tersebut mendapatkan bimbingan cara mengerjakan soal yang efisien. Pada malam hari, mereka di-dril dengan soal-soal sesuai dengan mata pelajaran keesokan harinya. Pihaknya juga optimistis, mereka dapat lulus seluruhnya. Demikian juga 230 siswa reguler SMPN 1 Cepogo.  
Ketua Komisi IV DPRD Boyolali, Mulyanto mengingatkan kepada seluruh peserta agar mengerjakan soal dengan teliti. “Kami sudah memantau beberapa sekolah dan pelaksanaanya tertib. Kami meminta seluruh peserta agar mengerjakan soal dengan teliti. Bila sudah selesai dicek kembali hingga benar- benar yakin dengan jawaban yang dipilih,” tegasnya.
Sementara itu, seorang siswi SMP di Solo terpaksa mengerjakan Unas di atas tempat tempat tidur ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sekolah setempat. Sebab, siswi SMP Batik Solo ini dalam kondisi sakit usai mengalami kecelakaan hingga membuat tulang kaki kanannya retak. Dengan seksama, siswi bernama Reni Fiki H itu membaca setiap butir soal mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia. Ia menyandarkan punggungnya di tembok sekolah dengan kaki selonjor. Terlihat perban cokelat masih membalut betis kanannya hingga bagian lutut.
Sesekali gadis itu membenahi posisi duduknya. Setelah membaca soal dan menemukan jawaban, ia langsung mengatakan jawaban pilihannya pada pengawas ruang ujian. Selanjutnya pengawas menghitamkan pilihan jawaban sesuai yang diucapkan gadis itu.(wo/dah/mas/ida)