25.3 C
Semarang
Jumat, 13 Desember 2019

Perawat Kuasai Penanganan Dasar

Must Read

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

MUNGKID– Tidak bisa dipungkiri keberadaan perawat di dunia kesehatan sangat penting. Sebagai orang terdepan dalam menangani pasien, korps baju putih ini dituntut kuasai kompetensi dasar.     
Untuk membekali calon perawat, Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi Keperawatan DIII UMM menggelar praktik penanggulangan gawat Darurat (PPGD). Kegiatan digelar empat hari. Jumlah peserta 94 mahasiswa.       
Ketua panitia Ns. Sigit Priyatno mengatakan PPGD menjadi salah satu materi wajib bagi calon perawat. Pasalnya hal itu akan bermanfaat selama bertugas. “Tidak hanya di rumah sakit saja, tapi dalam keadaan bencana di alam terbuka seperti di jalan raya, gedung perkantoran, serta daerah yang terkena bencana,” kata dia.       
Menurutnya, melalui pelatihan tersebut diharapkan para peserta dapat menekan seminimal mungkin fatalitas korban. Dengan memberikan penanganan yang tepat.
Sigit mengatakan dalam pada beberapa kasus, korban tidak ditangani dengan baik dan benar. Sehingga justru membahayakan. “Salah satunya teknik mengevakuasi korban tanpa melihat penyakit yang dialami. Kondisi tersebut dapat memicu trauma luka atau bahkan memperparah kondisi korban,” imbuh Sigit.
Selama empat hari para peserta mendapatkan materi dari emergency medical services (EMS) 119 Jakarta. Berupa teori dan praktik.
Di antaranya tentang kedaruratan jantung, jalan nafas dan paru, gagal nafas, resitusi jantung paru, teknik pembalutan dan pembidaian. Serta pemakaian alat-alat emergency.       
Di samping itu para peserta juga melakukan praktik penganggulangan korban massal dengan metode triage system. Yaitu metode penanganan kasus kegawatdaruratan dengan mengelompokkannya menjadi tiga skala prioritas.
”Ketiganya yakni gawat darurat diberi label merah, gawat tetapi tidak darurat diberi label kuning,  serta tidak gawat dan tidak  darurat diberi label hijau,” kata dia.       
Praktik yang diadakan di lapangan Pandansari itu melibatkan PMI Kabupaten Magelang, Polsek Mertoyudan, serta satpam UMM. (vie/lis)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Rombak Kurikulum

Reformasi besar-besaran. Di bidang kurikulum pendidikan. Itulah instruksi Presiden Joko Widodo. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Kemarin. Kata 'reformasi' saja sudah sangat ekstrem. Apalagi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -