MUNGKID– Tidak bisa dipungkiri keberadaan perawat di dunia kesehatan sangat penting. Sebagai orang terdepan dalam menangani pasien, korps baju putih ini dituntut kuasai kompetensi dasar.     
Untuk membekali calon perawat, Fakultas Ilmu Kesehatan Prodi Keperawatan DIII UMM menggelar praktik penanggulangan gawat Darurat (PPGD). Kegiatan digelar empat hari. Jumlah peserta 94 mahasiswa.       
Ketua panitia Ns. Sigit Priyatno mengatakan PPGD menjadi salah satu materi wajib bagi calon perawat. Pasalnya hal itu akan bermanfaat selama bertugas. “Tidak hanya di rumah sakit saja, tapi dalam keadaan bencana di alam terbuka seperti di jalan raya, gedung perkantoran, serta daerah yang terkena bencana,” kata dia.       
Menurutnya, melalui pelatihan tersebut diharapkan para peserta dapat menekan seminimal mungkin fatalitas korban. Dengan memberikan penanganan yang tepat.
Sigit mengatakan dalam pada beberapa kasus, korban tidak ditangani dengan baik dan benar. Sehingga justru membahayakan. “Salah satunya teknik mengevakuasi korban tanpa melihat penyakit yang dialami. Kondisi tersebut dapat memicu trauma luka atau bahkan memperparah kondisi korban,” imbuh Sigit.
Selama empat hari para peserta mendapatkan materi dari emergency medical services (EMS) 119 Jakarta. Berupa teori dan praktik.
Di antaranya tentang kedaruratan jantung, jalan nafas dan paru, gagal nafas, resitusi jantung paru, teknik pembalutan dan pembidaian. Serta pemakaian alat-alat emergency.       
Di samping itu para peserta juga melakukan praktik penganggulangan korban massal dengan metode triage system. Yaitu metode penanganan kasus kegawatdaruratan dengan mengelompokkannya menjadi tiga skala prioritas.
”Ketiganya yakni gawat darurat diberi label merah, gawat tetapi tidak darurat diberi label kuning,  serta tidak gawat dan tidak  darurat diberi label hijau,” kata dia.       
Praktik yang diadakan di lapangan Pandansari itu melibatkan PMI Kabupaten Magelang, Polsek Mertoyudan, serta satpam UMM. (vie/lis)