Mengingat Perjuangan Marsinah, Menolak Lupa

179

PLEBURAN — Sekitar 200 buruh, mahasiswa, jurnalis, seniman dan aktivis dari berbagai elemen masyarakat, Senin (5/5) menggelar aksi di depan Patung Diponegoro Jalan Pahlawan Semarang. Mereka yang tergabung dalam Komite Obor Marsinah menuntut pemerintah untuk menuntaskan kasus pelanggaran hak asasi manusia, pembunuhan aktivis buruh Marsinah, serta mengangkat Marsinah sebagai pahlawan buruh nasional.
”Sampai saat ini kasus Marsinah belum terungkap secara tuntas. Tak salah Marsinah diperjuangkan untuk jadi pahlawan karena dia pejuang rakyat, pejuang upah layak, kesejahteraan dan pejuang demokrasi,” tutur Koordinator Komite Obor Marsinah Semarang Zainal Arifin di Panggung Rakyat Obor Marsinah.
Marsinah merupakan buruh PT Catur Putera Surya Sidoarjo yang dibunuh pada 8 Mei 1993 melalui penyiksaan berat. Aparat keamanan dan pemerintah diduga bertanggung jawab atas kematian buruh yang aktif memperjuangkan kesejahteraan ini.
Peringatan ini merupakan rangkaian dari reli Obor Marsinah dari Jakarta ke Surabaya. Semarang merupakan kota ketujuh yang dilalui rombongan setelah Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Pekalongan dan Batang. Reli Obor Marsinah dimaksudkan agar masyarakat mengingat dan menolak lupa bahwa masih banyak kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang belum diselesaikan.
Budi Wardoyo dari Komite Obor Marsinah Jakarta menjelaskan, selain menuntut penuntasan kasus pelanggaran HAM, mereka juga meminta pemerintah pada 2015 menaikkan upah buruh sebesar 30 persen, menjamin kebebasan berserikat dan berpendapat. ”Banyak buruh yang di-PHK gara-gara berserikat,” jelasnya.
Kemudian juga menolak aksi kekerasan seksual yang saat ini terus meningkat. Marsinah merupakan contoh salah satu korban pembunuhan yang didahului dengan kekerasan seksual. ”Rakyat harus bersatu untuk bersama-sama memperjuangkan hak-haknya, jangan menggantungkan pada elite politik,” jelas Budi.
Selain diisi berbagai orasi, panggung rakyat juga diisi dengan pemutaran film, pertunjukan seni dan diskusi. Selanjutnya rombongan akan meneruskan perjalanan ke Jogjakarta, Solo, Sragen, Madiun, Nganjuk, Jombang, Sidoarjo dan berakhir di Surabaya. Di Nganjuk rombongan akan berziarah ke makam Marsinah dan di Sidoarjo aksi akan berlangsung di Porong, lokasi bekas pabrik tempat Marsinah bekerja yang saat ini sudah tertimbun lumpur. (ton/ce1)