UNGARAN — Ujian nasional (unas) jenjang SMP dan sederajat 2014 di Kabupaten Semarang, diikuti 12.783 pelajar. Terbagi atas 10.409 pelajar SMP, MTs (2.347), dan SMP-LB (27).
Namun, ada satu pelajar yang bakal mengikuti unas di rumah. Yakni, Irfan Ade Setiyono, 17, pelajar SMP Negeri 3 Ungaran kelas 9-J.
Anak pasangan Setiyono, 48; dan Sri Sutami, 43; itu mengalami cedera patah tulang belakang karena jatuh saat bermain futsal di lapangan dekat rumahnya di lingkungan Sembungan Utara RT 06 RW 04 Ungaran. Hampir empat bulan terakhir ini, Irfan hanya terbaring di tempat tidurnya.
”Sekalipun kondisinya seperti ini, tetapi semangat untuk ikuti ujian sangat besar. Kami sudah mengajukan permohonan ujian di rumah. Selama Irfan sakit, sekolah juga perhatian dengan mengirim soal ulangan atau soal tryout. Nanti, kalau sudah dikerjakan diambil kembali oleh sekolah,” tutur Sri Sutami, saat ditemui di rumahnya, kemarin.
Sri menceritakan, ihwal sakitnya Irfan pada akhir Desember tahun lalu. Ketika itu, Irfan bermain futsal dan pada posisi kiper. Irfan pun terjatuh. Awalnya, ia tidak merasakan apa-apa. Lama-kelamaan, ada kelainan pada tulang belakangnya. Baru pada awal Januari 2014, Irfan merasakan kakinya lumpuh.
”Sempat menjalani pemeriksaan di RSUD Ungaran dan dirujuk di RSUP dr Kariadi. Tapi, saatnya rawat inap di RSUP Dr Kariadi, ternyata ruang perawatan habis. Akhirnya, Februari dibawa ke RS Karima Utama, Surakarta dan diketahui tulang belakang Irfan patah dan terselip. Juga didiagnosis terinfeksi virus TBC tulang. Selanjutnya dilakukan tindakan medis berupa operasi tulang belakangnya yang patah,” beber Sri.
Toh, Irfan tetap ingin mengikuti unas, sekalipun hanya bisa mengerjakan di tempat tidur rumahnya. ”Daripada ikut ujian susulan tahun depan, kalau bisa ikut sekarang kenapa harus menunggu,” kata Irfan, lirih.
Ketua Panitia Unas Kabupaten Semarang, Adi Prasetyo menjelaskan, pihak sekolah tempat Irfan belajar telah melapor. Laporan tersebut sudah diteruskan ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Tapi, belum ada keputusan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jateng.
Meski begitu, Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang tetap akan memfasilitasi agar Irfan bisa mengerjakan unas, sekalipun dikerjakan di rumah.
Rencananya, panitia akan mengirimkan dua pengawas dan guru pendamping.

”Dia (Irfan) tidak mungkin bisa mengerjakan di sekolah, karena sakitnya tergolong parah. Yang jelas, dia tetap ikut ujian sesuai jadwal reguler, karena secara intelegensi masih ’nyambung’. Hanya fisiknya yang tidak memungkinkan. Prinsip, kita tidak akan mempersulit dan sekolah tetap akan memberikan kenyamanan pada siswanya untuk mengikuti ujian nasional,” ungkap Adi sembari mengingatkan agar tidak percaya isu kunci bocoran jawaban soal unas. (tyo/isk/ce1)