Kampung Bergota, Kampung di Tengah-Tengah Makam

Sekilas, tidak ada yang janggal ketika pertama kali memasuki pemakaman Bergota. Seperti layaknya pemakaman lain, tampak berjejer batu nisan dengan ornamen lusuh di sekeliling rumah tinggal.

Tetimbunan daun kering, disertai banyaknya lumut kering yang menempel pada batu nisan, menimbulkan kesan tidak terawat dan dibiarkan begitu saja.
Namun, siapa sangka ketika masuk ke dalam area pemakaman yang ditahbiskan sebagai pemakaman terluas di pulau Jawa itu, ternyata banyak hal menarik.
Di dalamnya, terdapat bangunan rumah-rumah berpenghuni manusia. Mereka hidup dan bercanda bebas, sebagaimana biasanya.
Ya, begitulah gambaran singkat tentang perkampungan di area pemakaman Bergota. Kampung itu berisi manusia-manusia yang katanya telah hidup secara turun-temurun dari lintas generasi.
Dari bangunan rumahnya, ada yang biasa-biasa saja. Namun, tidak sedikit yang luar biasa. Rumah-rumah itu berdiri permanen, dan dilengkapi fasilitas listrik. Bahkan, ada beberapa yang menjulang tinggi.
Ketua RW V Kelurahan Randusari, Minarto, mengatakan, perkampungan Bergota telah ada sejak sebelum adanya pemakaman.
Ia mengklaim, perkampungan itu telah dihuni sebelum zaman penjajahan oleh Belanda maupun Jepang. “Jadi yang tinggal di sini adalah anak cucu dari orang-orang yang hidup pada zaman itu. Tidak ada orang baru di sini,” ungkapnya.
Minarto menyadari, mereka yang tinggal di sana tak punya sertifikat tanah atau izin mendirikan bangunan. Meski begitu, mereka tetap membayar pajak.
Tanah-tanah tersebut dikuasai oleh juru kunci, ibarat memiliki sebuah sawah. Sedangkan pemerintah sifatnya hanya menata. “Mata pencaharian orang sini adalah juru kunci makam. Mereka hidup dari merawat dan membersihkan makam sehari-hari.”
Di wilayah RW V sendiri, lanjut Minarto, ada sekitar 230 kepala keluarga (KK). Meski jumlah penduduknya terus meningkat, Minarto mengklaim –khususnya di RW V- tidak ada yang menyerobot makam.
Mereka, kata Minarto, menempati tempat kakek neneknya dulu tinggal. “Saya berani menjamin atas hal itu. Kecuali bekas rumah yang dijadikan makam ada beberapa.”
Terkait adanya hal-hal mistis yang terjadi di daerahnya, Minarto tidak menyangkal. Misalnya, terjadi penampakan atau terdengar suara-suara aneh dari arah yang tidak tertentu. Meski begitu, mereka mengaku telah terbiasa.
“Yang namanya tempat pemakaman, ada pembuangan dari berbagai macam karakter. Pernah ada orang yang dilihatin wajah separuh, suara orang menangis, dan lain sebagainya. Meski pada saat itu (terjadi penampakan) sempat grogi, kami sudah terbiasa dengan hal itu. Intinya saling menjaga sesama ciptaan Tuhan.”
Terpisah, Lurah Randusari Edwin Noya melalui Sekretaris Kelurahan Sariyono membeber, hampir 60 persen Keluarahan Randusari, merupakan makam.
Dari 30 hektare luas pemakaman Bergota, hampir seperempatnya (7,5 hektare) dijadikan permukiman. “Terlepas mereka menyerobot atau tidak, saya tidak tahu pasti. Sebab, mereka telah ada sebelum saya di sini dan menjadi ahli waris dari nenek moyangnya.”
Sariyono menambahkan, meski dari segi tanah mereka tidak punya izin, namun dari segi kependudukan semuanya terdata. Mereka yang menempati area pemakaman adalah RW III, V, dan VI. “Untuk RW III mulai dari RT 6 hingga 10. Sedangkan RW V, semuanya masuk area pemakaman kecuali RT 7. Untuk RW VI, yang masuk makam adalah RT 5, 6, 7, dan 8,” bebernya. (fai/isk)