MAGELANG– Sedikitnya 16 warga binaan Lapas Kelas II A Kota Magelang mengikuti ujian nasional (unas) tingkat SMP sederajat, kemarin. Meski harus menjalani hukuman, tidak menyurutkan sejumlah warga binaan untuk mengikuti ujian.       
“Tahun ini ada 16 warga binaan yang ikut. Lebih banyak dari tahun lalu yang hanya 12 orang,” kata Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan dan Keperawatan Lapas IIA Magelang, Tri Yoga Nugroho, kemarin.       
Mereka mengikuti unas kelompok belajar (kejar) Paket B. “Mereka adalah warga binaan atas berbagai kasus. Mayoritas tersandung kasus pencurian dan sudah menjalani hukuman lebih dari satu tahun,” jelas Yoga kemarin.
Yoga melanjutkan, tahun ini peserta lebih banyak dibanding tahun lalu yang hanya 12 orang. Kebanyakan mereka mengikuti ujian karena kesadaran masing-masing ingin menyelesaikan pendidikan dasar meski tersandung kasus dan terpaksa hidup di hotel prodeo.     
“Mereka cukup antusias. Meskipun usia mereka juga sudah tidak muda lagi, berkisar antara 30 – 40 tahun. Mereka berasal dari berbagai daerah ada dari Magelang, Kebumen dan Purworejo,” imbuh Yoga.
Layaknya peserta ujian di sekolah umum, kata dia, berbagai persiapan dilakukan oleh peserta unas di Lapas. Seperti mengikuti berbagai pembinaan yang disiapkan oleh para petugas Lapas, sebelum pelaksanaan unas. Bahkan, pada hari biasa pun warga binaan mendapat pelatihan khusus bidang akademik di samping pelatihan keterampilan.
Yoga berujar, semua warga binaan yang berminat belajar disediakan waktu setiap hari Senin – Kamis. Pihaknya menyediakan tempat khusus dan petugas, termasuk buku-buku pelajaran juga disediakan.       
“Pendidikan adalah hak setiap orang, termasuk para warga binaan. Kami berupaya untuk memenuhi hak itu. Meskipun kami akui masih ada yang enggan untuk belajar,” paparnya.       
Sementara itu, Kepada Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Magelang Sumardi mengatakan untuk unas SMP sederajat di Kota Magelang tercatat ada 3276 siswa yang tersebar di 22 SMP dan MTs. Ditambah dengan peserta sekolah luar biasa (SLB) sebanyak tujuh siswa.       
“Pengawasa unas SMP dilakukan dengan sistem silang dengan sekolah lain. Pada tahun ini juga melibatkan tim pemantau dari LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Semarang,” kata Sumardi.(vie/lis)