KLa Project Obati Kerinduan Klanis

180

SIMPANG LIMA — Meski banyak grup band pendatang baru, KLa Project tetap punya penggemar setia. Terbukti, setiap kali band asal Jogja ini menggelar konser, penonton selalu membeludak. Seperti saat konser KLa Project Sabtu (3/5) malam lalu di Krakatau Grand Ballroom Hotel Horison Semarang. Ratusan Klanis (penggemar KLa Project) tampak menyemut di bibir panggung. Mereka juga sangat hafal dengan lagu-lagu KLa Project meski sudah lebih dari 20 tahun dirilis.
Kelompok band yang digawangi Katon Bagaskara (vokal), Lilo (gitar/vokal), dan Adi Adrian (keybord) ini mampu mengobati kerinduan para Klanis. Rasa rindu para penggemar KLa Project ini seolah langsung membuncah ketika tembang Terpurukku di Sini membuka perform Katon dkk. Lagu dari album Ungu (1993) berirama pop mid tempo itu langsung mendapat sambutan meriah para penonton. Tanpa dikomando,  para Klanis kompak bernyanyi mengikuti sang vokalis. Hingga suasana pun kembali ke tahun 90-an di mana kelompok band tersebut mencapai puncak kejayaannya.  
”Malam ini kita datang diundang siapa Lilo?” tanya Katon. ”Oleh Taman Sari Hills,” ujar Lilo. ”Wah, ternyata Taman Sari bukan cuma di Jogja, tetapi juga ada di Semarang ya? Baik kalau begitu kita nyanyikan lagu Yogyakarta,” sahut Katon. Spontan, para penonton menjerit dan bertepuk tangan. ”Tetapi itu pada lagu terakhir,” canda Katon sambil tertawa.
Dengan nada yang halus,  Adi langsung memainkan intro lagu Menjemput Impian, satu lagu hits dari album Klasik (KLa back to Basic) yang dirilis pada 1999. Malam itu, KLa Project juga membawakan lagu baru karya Adi Adrian berjudul Mana Kutahu dengan irama slow tapi cukup ngebeat. Disusul lagu Pasir Putih yg merupakan lagu KLa Project tahun 1992. Uniknya, lagu tersebut dibuat dengan aransemen berbeda, bahkan pada bagian jeda lagu ini menyisipkan permainan biola dan flute yang seolah menyisipkan musik etnik khas Irlandia dengan solo drum yang sangat memukau.
Katon yang tak segan menyapa penonton pun langsung membawakan lagu berjudul Belahan Jiwaku yang hits pada 1992, disambung lagu Romansa yang dibuka dengan teknik tinggi permaian piano Adi. Lagu berikutnya Semoga yang diambil dari album Kedua pada 1990.
Suasana kembali haru ketika malam itu mereka membawakan lagu Tak Bisa ke Lain Hati yang diaransemen model baru. Disusul Lagu Baru dengan menyisipkan entakan musik dangdut di bagian jeda. Aksi panggung mereka ditutup dengan lagu Yogyakarta yang membuat para penonton berdiri sambil bernostalgia.
Suhartono, salah satu pengunjung mengaku, setelah menyaksikan penampilan KLa Project, ia merasakan saat masa mudanya dulu. Menurutnya, KLa Project adalah salah satu band legendaris yang tak pernah mati. ”Sangat terpuaskan hingga kita semua terhanyut ke era 90-an,” kata pria 45 tahun ini.
Hendarti, penonton lain juga mengatakan hal senada. Menurut dia, lagu-lagu KLa Project mengingatkan dirinya saat masa-masa SMP dulu. ”Dulu saya sering denger lagunya KLa Project, saya jadi kangen masa muda yang sering main ke Jogja. Memang KLa tidak ada matinya,” ucapnya. (den/aro/ce1)