Kegagalan Adalah Investasi

101

Oleh: Andreas Lako



PADA awal Mei 2009, usai pemilihan legislatif (pileg) 2009, saat mengajar mata kuliah Manajemen Keuangan Korporasi untuk mahasiswa Magister Manajemen di suatu perguruan tinggi swasta, saya bertanya kepada seorang bapak yang mencalonkan diri sebagai caleg DPR tentang hasil pemilu dan peluangnya terpilih. Belum sempat bapak itu menjawab, istrinya yang juga mahasiswi dalam kelas saya dengan nada agak keras langsung menjawab: ”Dia gagal total, Pak! Semua harta yang sudah kami bangun dan miliki selama ini habis gara-gara dia nekat maju jadi caleg. Bapaknya ngeyel dan sok yakin, sih.”
Mendengar itu, saya terdiam sambil menatap penuh empati pada si ibu. Para mahasiswa lainnya juga terdiam. Si bapak, sang caleg gagal juga tertunduk malu. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Melihat suasana kelas yang tegang dan sunyi, saya memecahkan suasana dengan tertawa kecil sambil memberi penguatan kepada si ibu tadi dengan mengatakan sebagai berikut:
”Wah ibu, jangan berpikiran seperti itu. Bapak tidak gagal total. Kekayaan ibu dan bapak juga tidak akan hilang. Pasti akan kembali dalam jumlah yang jauh lebih besar lagi. Apa saja yang telah bapak, ibu dan keluarga besar korbankan sebelum dan selama pemilu kemarin adalah investasi strategis untuk memperluas relasi sosial dan relasi bisnis yang sudah bapak-ibu bangun selama ini. Dengan bapak maju sebagai caleg, maka banyak rakyat di Jawa Tengah yang tadinya belum mengenal bapak dan usaha bisnis bapak-ibu, maka setelah pileg ini mereka pasti sudah tahu semuanya. Mereka pasti akan mengambil keputusan untuk makan atau pesan makanan di rumah makannya ibu. Mereka juga menyewa peralatan pesta di tempatnya ibu, atau berhubungan dengan bisnis bapak-ibu.
Usaha bapak-ibu pasti akan semakin ramai, maju dan untung apabila bapak-ibu mau melihat kegagalan dalam pileg lalu dari sisi-sisi yang positif, yaitu sebagai ajang promosi usaha dan memperluas relasi bisnis. Apabila bapak-ibu semakin kompak dan harmonis dalam keluarga pascapileg, serta semakin bersemangat dalam membangun usaha bisnisnya, saya menyarankan agar bapak-ibu memperluas usaha dengan membuka usaha-usaha baru di daerah-daerah di mana bapak meraih suara cukup signifikan. Saya yakin, kegagalan bapak maju sebagai calon DPR RI kemarin adalah berkah bagi ibu dan keluarga.”
Mendengar penjelasan saya itu, raut muka si ibu tampak berseri-seri. Beliau menatap tajam ke arah saya. Beberapa kali beliau menganggukkan kepala. Suaminya juga tampak gembira dan antusias mendengarkan saya sambil sekali-kali melirik istrinya. Suasana kelas juga kembali ramai karena saya membuat lelucon dengan menanyakan kepada si bapak caleg gagal tentang peristiwa-peristiwa lucu yang dihadapinya selama masa kampanye. Para mahasiswa lain juga menimpalinya dengan cerita-cerita lucu seputar perilaku para caleg, sehingga membuat suasana kelas yang tadinya tegang menjadi ramai karena riuh tertawa.

Risiko Investasi
Pada kuliah malam itu, saya pun lalu memfokuskan perkuliahan untuk menjelaskan prinsip-prinsip dasar keuangan dalam pengelolaan kehidupan manusia dan korporasi, terutama prinsip high risk high return dan low risk low return dalam berinvestasi. Prinsip tersebut menyatakan bahwa apabila seseorang berani mengambil risiko besar dengan berinvestasi pada portfolio aset yang memiliki potensi return yang cerah, maka kemungkinan orang tersebut untuk mendapatkan keuntungan (return) yang besar juga sangat besar. Sebaliknya, apabila seseorang tidak mau mengambil risiko atau memilih berinvestasi pada portfolio aset yang memiliki potensi risiko yang rendah, maka peluang untuk memperoleh return investasi yang besar juga rendah.
Pada kuliah tersebut, saya juga memberi contoh-contoh nyata para tokoh politik, tokoh bisnis, tokoh pendidikan, tokoh masyarakat, serta korporasi yang sukses maupun gagal akibat menerapkan prinsip-prinsip keuangan tersebut secara baik atau sembrono. Saya lalu mengatakan kepada si ibu tadi, bahwa apa yang telah dilakukan suaminya maju dalam pileg DPR termasuk dalam konteks prinsip high risk, high return. ”Sekarang, tinggal bagaimana bapak dan ibu menyikapi dan menindaklanjuti secara positif high risk yang telah diinvestasikan selama masa pileg untuk mendapat high return di masa-masa mendatang.”
Usai kuliah, si bapak-ibu tadi menemui saya dan mengucapkan banyak terima kasih yang telah menguatkan mereka. Mereka mengatakan pasca kegagalan pileg, mereka sering bertengkar, saling menyalahkan dan menganggap sudah gagal total semua yang sudah dibangun selama ini. Setelah mendengar penguatan dari saya, mereka akan bangkit dan akan semakin bersemangat membangun usaha-usaha bisnis yang sudah dirintis.
Dan ternyata tekad mereka terwujud. Mereka mengembangkan usaha rumah makannya hingga ke Semarang dan beberapa daerah di Pantura. Bisnis mereka yang lain juga bertambah maju. Beberapa waktu lalu, saya sempat singgah ke salah satu rumah makannya untuk mencicipi ikan bakar yang konon sangat lezat. Dari karyawannya, saya mendapat informasi bahwa bisnis si bapak-ibu, mantan mahasiswa saya itu, makin maju. Sejumlah usaha mereka berhasil dan berkembang pesat, serta mempekerjakan banyak karyawan. Mendengar itu, sebagai pendidik saya bahagia dan bangga.

Dari cerita di atas, ada banyak pelajaran yang sebaiknya kita petik untuk kehidupan kita masing-masing. Yakni, pengorbanan yang telah dilakukan namun pada akhirnya kita memperoleh hasil yang tidak memuaskan alias gagal bukanlah suatu yang sia-sia belaka. Pengorbanan tersebut bukanlah suatu yang harus disesali. Semua pengorbanan yang telah dilakukan tersebut haruslah kita akui sebagai akumulasi investasi strategis untuk meraih keberhasilan-keberhasilan yang lebih besar (high return) di masa mendatang. Namun, kita harus bisa mengevaluasi bahwa kegagalan yang kita peroleh saat ini adalah sebagai akibat pengorbanan investasi (waktu, tenaga, materi, relasi sosial, personal skill, dan lainnya) yang telah kita lakukan masih kurang atau belum maksimal untuk meraih suatu keberhasilan. Namun demikian, pengorbanan tersebut adalah investasi awal untuk meraih kesuksesan-kesuksesan lain di masa datang.
Karena itu, bagi para pembaca, khususnya mereka yang gagal atau belum berhasil terpilih menjadi anggota legislatif dalam pileg April 2014 lalu janganlah merasa gagal, stres dan menganggap semua pengorbanan yang telah dilakukan dalam pileg lalu sebagai sia-sia atau gagal total. Jadikanlah pengorbanan tersebut sebagai modal sosial awal untuk membangun hal-hal positif yang bermanfaat dan dapat menghasilkan kesuksesan di masa datang.
Begitu pula dengan keluarga besar dari para caleg gagal. Janganlah memperberat beban psikis dari para caleg gagal. Tapi, berilah motivasi-motivasi yang menguatkan harapan dan keyakinan mereka agar berupaya lebih keras dan cerdas lagi untuk meraih keberhasilan di masa depan. (*/aro/ce1)

Penulis Kepala LPPM Unika Soegijapranata, Semarang