Pelaku Dituntut Ringan, Sidang Ricuh

168

Kasus Pengeroyokan Ponalan

MUNGKID—Sidang kasus pe­nge­royokan dan penganiayaan yang berujung tewasnya Gustian Si­git Prasetyo, 19, warga Desa Taman­agung Kecamatan Muntilan di Pengadilan Negeri (PN) Mungkid kembali berakhir ricuh. Massa dari pihak korban merasa tidak puas dengan tuntutan jaksa yang dinilai terlalu rendah.
PN Mungkid sendiri kemarin mengagendakan dua sidang kasus pengeroyokan tersebut. Di antaranya sidang dengan agenda pembelaan terdakwa utama Arif alias Penyu, 22, dan tuntutan untuk dua pelaku lain yakni Muhammad Hari Arbani dan Yoga Prasetyo.
Dipimpin hakim Sulistiyanto sidang pertama dengan agenda pledoi ditunda karena penasehat hukum belum siap. Kemudian di sidang selanjutnya, dua tersangka penganiayaan dituntut 8 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU).
Tuntutan ini, hanya beda satu tahun dengan yang diterima oleh Arif sebagai pelaku penusukan terhadap korban. ”Kami meminta kepada majelis hakim menghukum terdakwa dengan hukuman delapan tahun penjara sesuai dakwaan subsider pasal 170 ayat 2 ke (3),” kata JPU Bagus Catur Y.
Pertimbangan yang memberatkan perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat, tidak berperikemanusian dan mempengaruhi orang lain melakukan kekerasan. Jaksa tidak menemukan pertimbangan meringankan.
Mendengar tuntutan itu, keluarga korban tidak terima. Mereka mengejar dua terdakwa yang hendak dimasukkan ke dalam ruang tahanan PN Mungkid.
Penjagaan dari satuan pengendali massa sempat berhasil ditembus. Hingga terjadi aksi dorong dan pukul antarpetugas dengan massa. ”Nyawa dibalas nyawa,” teriak massa.
Meski sudah dimasukkan ke ruang tahanan, massa tetap berusaha merengsek masuk. Ketatnya penjagaan membuat massa makin emosi dan melempari petugas dengan batu dan pot bunga.
Beruntung aksi itu berhasil diredam oleh sejumlah keluarga yang tidak emosi. Namun, massa yang masih marah meluapkannya dengan membakar replika keranda dan poster berisi tuntutan dan kecaman yang dibawa sebelum sidang dimulai. Massa memang sempat menggelar orasi.
”Ini bentuk kekecewaan kami atas ketidakadilan hukum,” kata Wiyantoro ayah korban.
Dia menilai kasus pengeroyokan yang menwaskan anaknya murni sudah direncanakan. Sehingga anaknya meninggal dunia. ”Saya menuntut keadilan, bahkan sampai presiden pun akan saya lakukan,” tegasnya.
Sebenarnya, kata dia, keluarga ikhlas anaknya meninggal dunia. Asalkan pelaku dihukum setimpal. ”Kalau tidak hukuman mati ya minimal seumur hidup,” tuturnya.
Untuk mengingatkan, insiden berdarah yang merenggut nyawa Gustian Sigit Prasetyo terjadi di arena pentas musik dalam rangka perayaan 17-an dan halalbihalal di Ponalan, 24 Agustus 2013 malam. Keributan pertama di samping panggung berhasil dilerai warga. Terdakwa dan korban disuruh pulang ke rumah masing-masing.
Bukan pulang ke rumah orangtuanya, terdakwa menuju rumah majikannya, pengusaha kue bakpia. Saat melihat sebilah pisau tergeletak di atas meja dapur, lalu diambil dan diselipkan di pinggangnya, kemudian kembali lagi ke arena pertunjukan.
Tiba di depan rumah seorang warga, korban datang menghampiri lantas memukul terdakwa hingga jatuh terjengkang. Korban yang berbadan lebih besar memburu dan menindih tubuh terdakwa. Melihat korban akan memukul wajahnya, spontan menarik pisau di pinggang dan menusukkan ke dada korban, lalu kabur.
Korban yang hendak diselamatkan justru dilempari dengan batu dan masih sempat dipukuli oleh para terdakwa lain. (vie/lis)