Pembunuh Masih Saudara Sepupu

166

Mayat Disembunyikan di Plafon

WONOSOBO – Kasus pembunuhan menggemparkan warga Dusun Batursari, Desa Banaran, Kecamatan Sapuran, Wonosobo Sabtu (29/3) lalu. Bocah berusia 11 tahun, Vina Yuni Astuti, ditemukan telah menjadi mayat setelah dibunuh saudara sepupunya Fery Pratikno, 18, warga setempat.
Entah pikiran apa yang merasuki otak Fery Pratikno ini yang tega membunuh bocah yang masih saudaranya. Sadisnya lagi, sebelum dibunuh, bocah malang ini, dicabuli kemudian mayatnya disembunyikan di plafon atap rumah pelaku.
Informasi yang dihimpun Radar Semarang pembunuhan ini, diketa­hui pada Sabtu (29 /3) pagi. Mulanya, ibu pelaku Suciati, pada Jumat (28/3) malam, mencium bau busuk di dalam rumahnya di lantai dua.
Saat dicek, di atas lantai terdapat cairan. Oleh Suciati kemudian dibersihkan.
Esok harinya, Suciati kembali ke lantai dua, yang dekat dengan kamar Fery Pratikno. Pagi itu, dia bermaksud membersihkan lantai. Hal serupa terjadi lagi, bau busuk menyengat disertai cairan mengalir di lantai, yang diduga dari plafon atap rumah.
Suciati kemudian meminta tolong Supoyo, 45, dan Slamet Muhyen, 28, untuk mengecek plafon atap rumah. Setelah dicek, sumber bau busuk dari kardus bekas bungkus televisi. Setelah dibuka, ternyata mayat manusia.
“Setelah dicek, ternyata mayat itu Vina Yuni Astuti,” kata Kades Banaran Supono.
Supono mengatakan, Vina Yuni Astuti merupakan anak dari pasangan Mahiro – Siti Karomah. Lima hari sebelumnya, pada 25 Maret, orang tua korban sempat melaporkan, bahwa anaknya hilang saat berangkat mengaji pada pukul 14.00. “Orang tua korban bercerita, hingga pukul 16.00 belum juga pulang padahal biasanya sudah pulang. Saat dicek di tempat pengajian kata guru dan temannya, Vina tidak berangkat mengaji,” tuturnya.
Kapolres Wonosobo AKBP Agus Pujianto melalui Kasastreskrim AKP Sunarto mengatakan, kabar hilangnya Vina sudah dilaporkan ke Polsek Sapuran. Petugas juga sudah melakukan pencarian. “Keluarga korban melaporkan kasus penculikan pada 26 Maret,” katanya.
Kemudian diketahui pada Sabtu (29/3) korban sudah meninggal, dibungkus plastik warna putih, kemudian dimasukkan dalam kardus berkas TV. “Kardus itu, disembuyikan di plafon atap rumah Fery Pratikno,” ujarnya.
Pada mulanya, kata Sunarto, tidak muncul dugaan pelaku penculikan dan pembunuhan itu Fery Pratikno. Karena antara pelaku dan korban merupakan saudara sepupu. Karena Siti Karomah ibu korban dan Suciati ibu pelaku merupakan saudara kandung.
“Pada saat dikabarkan ada penculikan, pelaku juga pura-pura ikut mencari korban,” imbuhnya.
Setelah mayat ditemukan warga, lanjut Sunarto, pada hari itu juga Fery bermaksud melarikan diri. Namun, baru sampai di wilayah Kecamatan Kepil, sudah ditangkap sejumlah warga.
“Begitu korban tertangkap, warga sempat mau menyerang. Namun, langsung diamankan petugas kami,” ujarnya.
Sunarto mengatakan, dari hasil pemeriksaan terhadap pelaku terungkap pembunuhan dilakukan pada 25 Maret. Saat itu, sekitar pukul 14.00. korban hendak berangkat mengaji, kemudian sempat mampir ke depan rumah Suciati. “Korban sering mampir ke rumah pelaku, karena memang ada hubungan saudara,” tuturnya.
Saat itulah, imbuh Sunarto, begitu korban masuk ke rumah budhenya, langsung dibawa oleh Fery ke kamarnya. Lokasi kamar berada di lantai dua, sementara Suciati berada di warung, yang letaknya di bagain depan rumahnya. “ Suciati, selain sibuk melayani pembeli. Juga tidak menduga kalau anaknya akan bertindak sadis,” tandasnya.
Setelah dibawa ke dalam kamar, Fery kemudian mencabuli Vina. Saat dicabuli, korban sempat meronta berupaya melepaskan diri. Namun, oleh Fery mulut korban dibekap dengan kerudung. Setelah itu, kerudung juga dijeratkan pada leher korban. “Korban dicekik menggunakan kerudung, kemudian dipukuli mukanya. Karena korban sempat melakukan peralwanan,” ungkapnya.
Ditambahkan, setelah dicekik, korban tewas. Pelaku kemudian mengambil plastik di gudang warungnya, serta mengambil kardus bekas TV. Tubuh korban dibungkus plastik, kemudian dimasukan dalam kardus dan disembunyikan di atap plafon rumah pelaku. “Pelaku mengaku sempat akan membuang jasad korban, namun tidak punya peluang. Karena kondisi rumahnya selalu ramai,” ujarnya.
Lanjut Sunarto, pelaku menga­ku tega membunuh korban lantaran kerap dimarahi oleh Mahiro bapak kandung korban. “Ayah kandung korban memarahi pelaku, karena beberapa kali pinjam motor namun digadaikan,” tuturnya.
Dari hasil pemeriksaan, kata Sunarto, pelaku diketahui juga mempunyai cacatan kriminal. Pernah melakukan tindak pencurian dan diproses di Polsek Sapuran. Tak hanya itu, pelaku juga pernah menikah kemudian cerai. Karena kerap memukuli istrinya. (ali/lis)