TEMANGGUNG—Kendati terca­tat sebagai benda cagar budaya (BCB), namun gerbang Pasar Legi Parakan tidak memiliki nilai arkeologis yang tinggi. Hal tersebut memungkinkan untuk bangunan peninggalan pemerintah Hindia Belanda ini dapat dibongkar dan sepenuhnya menggunakan detail engineering design (DED) yang telah disusun sebelumnya.
Kabid Kebudayaan, Dinas Pari­wisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Te­mang­gung, Didik Nuryanto, mengatakan, dari hasil penelitian arkeologis yang dilakukan secara terpadu antara Pemkab Temanggung dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah diketahui nilai arkeologis bangunan tersebut tidak terlalu tinggi.
“Tetapi tidak semuanya dibongkar, untuk prasasti tetap harus kita tinggalkan. Tembok yang ada tulisannya itu kita potong selanjutnya dipasang di bangunan yang baru sebagai pertanda bahwa bangunan ini dibangun pada tahun tersebut,” katanya.
Ia mengatakan, untuk bangunan utama berupa pintu gerbang dapat dibongkar. Sebab, dari sisi konstruksi bangunan, bangunan yang dibuat pada 1925 tersebut tidak lagi kokoh sehingga akan mengganggu konstruksi bangunan utama. “Iya bisa dibongkar, cuma tulisannya itu harus dipotong dan ditempelkan sebagai prasasti,” tegasnya.
Arkeolog BPCB Jawa Tengah, Sugeng Riyanto memaparkan, peninggalan arkeologis tidak selamanya dapat dikategorikan sebagai peninggalan yang harus dipertahankan keasliannya. Terdapat klasifikasi jenis-jenis cagar budaya yang dapat diubah dan tidak dapat diubah dengan persyaratan yang cukup ketat. “Nah untuk Pasar Legi ini termasuk yang bisa diubah bentuk aslinya,” tambahnya.
Ia menerangkan, BPCB dan Pem­kab Temanggung telah me­lakukan penggalian data ar­ke­ologis dari berbagai sumber terkait hal ini. Rekomendasi akhir yang diberikan, bangunan dapat diruntuhkan atau dibiarkan tetap berdiri. “Kami memastikan saja bahwa itu bisa dibongkar, tetapi kalau tetap mau dibiarkan berdiri itu lebih baik,” tandas pria yang pimpinan ekskavasi Situs Liyangan ini. (zah/lis)