Coblosan Kisruh, Warga Diusir

150

PEKALONGAN-Suasana pemungutan suara di salah satu TPS, tiba-tiba kisruh. Menyusul datangnya seorang warga, bernama Suud, yang mengenakan pakaian berlogo salah satu partai politik (Parpol) serta mengibarkan bendera parpol. Petugas keamanan yang berjaga di TPS tersebut, langsung mengusirnya. Kendati Suud masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) dan bermaksud mencoblos juga.
“Saya ini mau nyoblos, kenapa saya tidak boleh masuk TPS. Ini surat undangannya, saya warga yang boleh nyoblos,” kata Su’ud sambil menunjukkan surat undangan.
Karena masih belum mau mencopot baju dan bendera parpol, Suud akhirnya diberi pengarahan dan pemahaman. Akhirnya Su’ud bersedia pulang untuk mengganti bajunya.
Begitulah adegan yang ditampilkan dalam simulasi pemungutan suara yang digelar KPU Kota Pekalongan, di halaman parkir kantor KPU setempat, Sabtu (1/3) siang kemarin. Adegan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada PPK, PPS, maupun masyarakat luas, bahwa atribut parpol apapun dilarang dibawa ke TPS.
Dalam simulasi tersebut, dipraktikkan juga seluruh tahapan pemungutan suara di TPS, mulai dari persiapan KPPS, pendaftaran pemilih, sampai tata cara pemungutan suara dan denah penataan TPS dalam Pemilu yang akan dilaksanakan serentak pada 9 April mendatang. “Simulasi ini dilaksanakan untuk memberikan pemahaman kepada seluruh penyelenggara pemilu di tingkat bawah dan semua penyelenggara Pemilu,” kata Ketua KPUD Kota Pekalongan, Basyir.
Menurutnya, ada banyak perbedaan peraturan antara Pemilu 2009 dan 2014. Yakni, dulu hanya ada DPT, sekarang ada tambahan berupa DPT Tambahan, DPT Khusus dan DPT Khusus Tambahan. ”Selain itu, cara memberikan suara yang dulu dicontreng, sekarang berubah dicoblos,” jelas Basyir.
Selain itu, tambah anggota KPU Divisi Pemutakhiran Data, Edi Harsoyo, rekapitulasi suara akan dilakukan di tingkat PPS atau kelurahan. “Dulu rekapitulasi dilakukan PPK atau tingkat kecamatan. Namun 2014 ini, rekap dilakukan di tingkat PPS atau kelurahan,” tandas Edi. (thd/ida)