3 April, Akan Dieksekusi Mati
UNGARAN — Pertemuan Satinah binti Djumadi, 41, dengan putri semata wayangnya, Nur Afriani, 20, serta Paeri Al Feri, 46, kakak Satinah di penjara Buraidah, Provinsi Al Gaseem, Arab Saudi, mungkin menjadi pertemuan yang terakhir. Sebab, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Dusun Mrunten, Desa Kalisisdi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang itu tinggal menunggu eksekusi mati oleh para algojo pada 3 April 2014 mendatang. Pihak keluarga Satinah hanya bisa pasrah setelah berupaya melakukan pembelaan bersama tim dari Pemerintah Indonesia.
Satinah divonis hukuman pancung oleh Pengadilan Arab Saudi karena dituduh membunuh majikannya Nura Al Garib di Arab Saudi. Dalam sidang pembayaran diyat di Arab Saudi sejak 14 Juni 2013 cukup alot. Karena ahli waris tetap ngotot pembayaran diyat sebesar 7 juta riyal atau Rp 21 miliar. Sementara itu uang yang disiapkan Pemerintah Indonesia dan sejumlah donasi baru terkumpul 4 juta riyal setara Rp 12 miliar.
Anak Satinah Nur Afriani ditemani pamannya Paeri bersama tim dari Kementerian Luar Negeri awal Februari 2014 lalu menemui Satinah di penjara Nura Al Garib. Menurut Paeri, saat ditemui, Satinah tampak lebih tenang dan ikhlas dalam menghadapi hukuman yang akan diterimanya. Satinah hanya berpesan agar anaknya Nur Afriani lebih tabah dan giat dalam belajar, serta tidak lupa mendoakannya.
”Januari lalu kita dapat informasi dari kedutaan di Arab Saudi bahwa Satinah akan dieksekusi pada 3 April mendatang. Lalu Nur dan saya difasilitasi oleh pemerintah datang ke Arab Saudi dari tanggal 29 Januari hingga 12 Februari lalu. Adik saya Satinah kondisinya sehat, bahkan lebih gemuk badannya. Dia juga mengaku sudah ikhlas menghadapi apa pun yang akan dialaminya. Dia berpesan pada anaknya agar giat belajar dan rajin mendoakannya,” kata Paeri saat ditemui Radar Semarang Kamis (13/2) siang.
Menurut Paeri, selama ini Satinah menjalani kegiatan di penjara dengan baik seperti membuat kerajinan tasbih. Saat ditemui di penjara, Nur Afriani hanya bisa menangis saat memeluk ibunya yang akan dihukum pancung. Bahkan Satinah banyak cerita kalau dirinya menang dalam lomba hafal Alquran tingkat narapidana.
Satinah berharap bisa pulang ke tanah air, pun dengan anak dan keluarga lainnya. Tetapi karena keadaannya memang serbasulit, Satinah pun mengaku pasrah. Saat rombongan akan pulang, Satinah sempat membawakan oleh-oleh berupa kurma dan air zamzam untuk anaknya.
”Tetapi, dia dan kami pun pasrah, sebab sudah ada upaya tetapi kalau keluarga korban tetap meminta uang diyat sebanyak itu. Lalu bagaimana kami harus memenuhi, pemerintah dan donasi saja hanya mampu 4 juta riyal. Kami hanya bisa pasrah, kami akan menggelar doa untuk Satinah. Anak Satinah juga sudah kirim surat kepada keluarga Nura, tetapi belum ada jawaban. Harapan kami pihak keluarga (Nura Al Garib) dibukakan pintu hatinya agar mau memaafkan Satinah,” harap Paeri.
Paeri menambahkan, Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Luar Negeri di Arab Saudi beberapa kali melakukan mediasi dengan menemui Kerajaan Arab Saudi dan keluarga korban. Bahkan Pangeran Arab Saudi sebenarnya tidak berkenan adanya hukuman pancung, dan mereka mendukung Satinah tidak dihukum mati. Kerajaan dan Komjen (Komisariat Jenderal) di Arab Saudi bertemu dengan keluarga, namun keluarga mantan majikan tetap minta Rp 21 miliar.
”Saya kasihan dengan Satinah, sejak muda dia sudah bekerja. Bahkan hingga berangkat ke Arab Saudi pada 2004-2007, semua itu untuk menafkahi keluarganya, tetapi malah berbuntut seperti ini,” katanya sedih.
Padahal, menurut Paeri, tindakan Satinah itu adalah perbuatan membela diri, hingga akhirnya majikannya meninggal dunia. Satinah kemudian ditangkap oleh polisi Arab Saudi, dan dimasukkan ke tahanan. Pada 2011 lalu, Satinah divonis hukuman pancung oleh pengadilan setempat, karena dianggap telah melakukan pembunuhan pada mantan majikannya.
”Kami masih berharap pada hari-hari terakhir ini ada pertolongan bagi adiknya, sehingga terlepas dari hukuman pancung,” ujar Paeri.
Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Semarang, Mas’ud Ridwan berharap negosiasi yang dilakukan pemerintah dimaksimalkan, sehingga Satinah dapat lolos dari maut. Jika ada kendala pada diyat, semestinya pemerintah mencarikan solusi lain dengan minta diulur waktunya.
”Kasus Satinah termasuk harga diri bangsa Indonesia. Semestinya penyelesaian masalah yang berkaitan dengan hubungan luar negeri dimaksimalkan,” katanya. (tyo/aro/ce1)