PEKALONGAN – Ribuan warga Kota Pekalongan, Kamis (13/2) siang memadati jalur protokol pantura yang dilewati pawai Perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Akibatnya, terjadi kemacetan dimana-mana, mulai dari Klenteng Po An Thian, di Jalan Blimbing, hingga Jalan Salak dan Sultan Agung.
Pawai perayaan Imlek dan Cap Go Meh, yang diselenggarakan oleh warga keturunan Tionghoa di Kota Pekalongan dipusatkan di Klenteng Po An Thian. Acara diawali dengan pembacaan doa dan mantra, pada arca 8 dewa yang ditandu oleh 4 orang. Seperti arca Dewa Naca atau Dewa Kesatria, Dewa Hyang Santhe atau Dewa Sejahtera, dan dewa lainnya, kemudian arca dewa tersebut diputar-putar sebanyak 8 kali, sebelum akhirnya diarak keliling Kota Pekalongan.
Para pemilik pertokoan di sepanjang jalan yang akan dilewati pawai Cap Go Meh sudah menyiapkan sejumlah angpau yang ditempatkan diatas pintu masuk pertokoan untuk diambil oleh barongsai. Mereka berharap tahun Kuda Kayu ini bisa membawa berkah.
Kim Han, 56, warga Jalan Sultan Agung Kota Pekalongan mengungkapkan dengan menyiapkan sejumlah angpau di depan pintu masuk toko miliknya, maka diyakini akan membuka rejeki di tahun yang akan datang. Menurutnya, jika angpau yang diberikan banyak, maka rejeki yang akan didapat juga banyak. “Setiap pintu masuk di muka toko, kita siapkan angpau, agar semua pintu masuk mengalir rezeki. Kebetulan saya ada 6 pintu masuk, maka saya sediakan 12 angpau, 1 pintu 2 angpao,” ungkap Budiman.
Jumati, 34, warga Kelurahan Setono RT 05 RW 02, Kecamatan Pekalongan Timur mengaku penasaran dengan perayaan Cap Go Meh tersebut. Menurutnya banyak peserta karnaval Cap Go Meh, yang mengenakan busana seperti yang dilihatnya pada film China, antara lain Dewi Kwan Im.
Ketua Panitia Pelaksana Perayaan Imleh dan pawai Cap Go Meh, Heru Santoso, menjelaskan, arak-arakan para dewa, yang ditandu oleh puluhan warga, adalah puncak ritual perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Menurutnya perayaan Cap Go Meh tersebut, juga dimeriahkan oleh kesenian daerah lainnya, seperti reog dan gending Jawa. ”Meski Kota Pekalongan mayoritas beragama Islam, mereka sangat antusias untuk menyaksikan perayaan Cap Go Meh, ini menunjukan bahwa kerukunan beragama di Kota Pekalongan sangat baik,” jelas Heru Santoso.
Sementara itu Wakil Wali Kota Pekalongan, Alf Arslan Junaid, yang membuka acara tersebut, menuturkan, perayaan karnaval kirab Cap Gomeh, sudah dimasukan sebagai agenda tahunan di Kota Pekalongan, sehingga bisa dijadikan salah satu atraksi wisata, yang harus dipromosikan. (thd/ric)