Penderita DB di Kedungmutih Bertambah

149

DEMAK — Penderita penyakit penyerta banjir di Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung, yang dirawat di rumah sakit bertambah. Yakni, dari 28 orang menjadi 35 orang warga.
Pun, warga yang rawat jalan masih terbilang tinggi, mencapai ratusan. Mereka hingga kini masih dalam proses pemantauan petugas kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Demak dan Puskesmas Wedung II.
Kepala Desa Kedungmutih, Hamdan mengatakan, mereka masih dirawat di beberapa rumah sakit di Jepara dan Kudus.
Seperti diketahui, kampung tepi laut itu berbatasan langsung dengan Jepara, sehingga sulit dijangkau dari Kota Demak.
Menurut Hamdan, sejak kemarin bantuan fogging atau penyemprotan kawasan lingkungan rumah warga telah mulai dilakukan.
Kepala Dinkes Demak dr Iko Umiyati melalui Humas Sukardjo SKM MKes mengatakan, perkembangan penyakit DB dan leptospirosis di Desa Kedungmutih terus dipantau.
Petugas kesehatan juga melakukan kroscek langsung ke beberapa rumah sakit di Jepara dan Kudus. Mereka dipantau selama tiga hari.
”Kita observasi atau lakukan pemeriksaan ulang pada pasien. Hasilnya, kita tunggu tiga hari kemudian bagaimana hasil laboratorium yang sebenarnya. Yakni, apakah mereka yang dirawat di rumah sakit ini DB atau penyakit lainnya.” Meski begitu, untuk sementara waktu, warga yang dirawat tetap berstatus suspect atau terduga DB dan leptospirosis. ”Kita cek rekam medis mereka dan bertemu dengan dokter terkait yang merawat di rumah sakit tersebut.”
Pihaknya juga memantau desa lain yang sebelumnya kena banjir. Seperti Desa Tedunan dan Kedungkarang. ”Kita dapat laporan bahwa ruang rawat inap di Puskesmas Wedung II di Desa Mutih Kulon sekarang ini sedang overload. Dari kapasitas 12 pasien, kini bertambah menjadi 18 pasien. Jadi, ruangan penuh. Diagnosis sementara ini, pasien diduga suspect demam berdarah dan leptospirosis.” Para pasien itu, antara lain, berasal dari Desa Kedungmutih, Babalan, dan Tedunan.
Menurut Sukardjo, dari beberapa desa, terparah penyebaran DB dan leptospirosis berada di Desa Kedungmutih. Hal itu terjadi lantaran sanitasi di kampung itu kurang memadai.
Sukardjo menambahkan, untuk mengurangi penyebaran DB, upaya fogging difokuskan pada tiga RW. ”Sementara ini baru menjangkau sekitar 100 rumah penduduk Desa Kedungmutih. Selain fogging, abatisasi juga digalakkan,” katanya.
Masih menurut Sukardjo, dalam perkembangan yang sama, hasil penelitian di lapangan oleh petugas kesehatan cukup mencengangkan. ”Dari hasil survei jentik nyamuk pada tempat minum di beberapa titik di Desa Kedungmutih, menunjukkan 70 persen positif ada jentik nyamuk. Karena itu, warga dan petugas tetap waspada dengan kondisi tersebut.”
Melihat kondisi itu, kata dia, maka status kejadian luar biasa (KLB) terhadap demam berdarah maupun leptospirosis tetap diberlakukan.
Seperti diberitakan koran ini sebelumnya, penyakit penyerta banjir— termasuk DBD— membuat tiga warga Desa Kedungmutih tewas. ”Mereka meninggal juga akibat infeksi panas termasuk faktor usia.” (hib/isk/ce1)