Ditinggal Menikah Lagi, Ibu 3 Anak Jual Oplosan

139

KEBONAGUNG — Gara-gara ditinggal pergi suaminya yang menikah lagi, Rani Setya Dewi, 34, warga Kampung Utri No 25 A RT 01 RW 01, Kelurahan Kebonagung, Semarang Timur, nekat menjual minuman oplosan jenis ciu. Akibatnya, ia diamankan oleh aparat Satuan Binmas Polrestbes Semarang, Kamis (6/2).
”Sudah tiga tahun suami saya pergi begitu saja dengan wanita lain. Sedangkan saya harus menghidupi dan menyekolahkan tiga anak,” kata Rani saat diperiksa di Mapolrestabes Semarang kemarin.
Sejak saat itu, Rani mencoba berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja sebagai penjual siomay dan pembantu rumah tangga. Namun penghasilannya dari dua pekerjaan tersebut dinilai kurang cukup. Karena itu, Rani pun memutuskan menjual oplosan yang biasa disebut lecy di rumahnya.
”Mulai tiga bulan lalu. Pembelinya biasanya anak kuliahan. Kalau masih sekolah tidak saya layani. Sehari bisa dua sampai tiga botol yang terjual,” ujarnya.
Pekerjaan sampingannya tersebut dilakukan setelah pada akhir 2013 lalu Rani bertemu dengan seorang pria asal Solo. Pria yang mengaku bernama Supriyono tersebut menawari Rani menjual lecy. Karena butuh uang, tawaran tersebut pun diterimanya.
Sejak itu, Rani selalu mendapatkan kiriman oplosan setiap satu bulan sekali. Harga yang dipatok Supriyono seharga Rp 22.500 per botol, kemudian Rani menjualnya seharga Rp 25.000 per botol. ”Oplosan itu diantar sendiri oleh Mas Supriyono, tapi kadang juga orang lain, seperti Mas Karyadi,” akunya.
Usaha Rani menjual oplosan tersebut bukan tanpa halangan. Berulang kali anaknya yang duduk di bangku SMP sempat mengingatkan agar dirinya berhenti menjual miras. Sebab, anaknya tersebut takut kalau polisi mengetahui dan ibunya ditangkap.
”Anak saya yang SMP itu sering mengingatkan. Takut kalau polisi tahu. Tapi saya bilang kalau tidak begini, kamu tidak bisa jajan,” paparnya.
Ketakutan anak Rani pun kini menjadi kenyataan setelah pihak kepolisin berhasil mengendus usaha tersebut. Hal itu tidak lepas dari peran masyarakat yang melaporkan Rani menjual miras. Dengan sigap, petugas kepolisian pun langsung mendatangi rumahnya.
”Ada informasi dari masyarakat kalau di tempat itu sering digunakan orang untuk membeli minuman keras. Setelah kami cek, ternyata benar,” kata Kasat Binmas Polrestabes Semarang, AKBP I Nengah WD kemarin.
Nengah menambahkan, selain di rumah Rani, pihaknya juga merazia di sebuah rumah di daerah Lampersari, Semarang Selatan. Namun, pemilik rumah berhasil melarikan diri. ”Dari dua penjual itu kami menyita 15 botol air mineral ukuran 1,5 liter berisi oplosan serta puluhan jerigen dan botol kosong. Seorang penjual kami amankan sebagai saksi, satunya melarikan diri,” ujarnya.
Pihak kepolisian saat ini masih melakukan pemeriksaan terhadap oplosan yang ditemukan. ”Belum tahu isinya itu ada kandungan campuran zat berbahaya lainnya. Tapi dari aromanya berbau lecy dan jeruk,” ungkap Nengah. Jika dalam pemeriksaan laboratorium forensik (labfor) nanti tidak ditemukan kandungan zat lain, maka penjual akan dikenakan tindak pidana ringan (tipiring). (har/hid/aro/ce1)