Kelangkaan Bensin di Semarang Meluas

185

SEMARANG — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium atau bensin di Kota Semarang semakin meluas. Banyak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang kehabisan stok premium, Rabu (5/2). Tak hanya bensin, sejumlah SPBU juga kehabisan stok pertamax. Pasalnya, banyak pengguna kendaraan bermotor yang akhirnya berganti pertamax setelah kesulitan mendapatkan premium.
Pantauan Radar Semarang di sejumlah SPBU kemarin, kelangkaan premium sudah terjadi sejak pagi. Namun ada pula yang kehabisan stok siang hari. Di SPBU Gombel dan SPBU Jalan Ngesrep Timur, Sumur Boto, pada pukul 13.00 kemarin, stok premiun dan pertamax habis. Hal itu sempat membuat sejumlah pengemudi mobil dan pengendara motor kecele.
”Saya sudah mendatangi dua SPBU, di Gombel dan Ngesrep sini, ternyata stok premium habis semua,” keluh Tono, 31, warga Jalan Setiabudi, Kelurahan Tinjomoyo, Banyumanik.
Tono pun melanjutkan pencarian premium ke SPBU Undip di Jalan Prof Soedarto. Ternyata sampai di sana, stok pertamax dan pertamax plus ludes, sedangkan stok premium masih ada. Namun antreannya mengular panjang sampai ke jalan. ”Saya harus antre sampai setengah jam,” katanya.
Kelangkaan bensin juga terjadi di SPBU Jalan dr Wahidin, SPBU Jalan S Parman, SPBU Jalan Sriwijaya, SPBU Jalan Majapahit, SPBU Gayamsari, dan SPBU Jalan Imam Bonjol. Hampir semua SPBU yang kehabisan stok premium memasang tulisan ”Premium dalam Proses Pengiriman.” Namun saat petugas SPBU ditanya, masih berapa lama menunggu, semua menjawab tidak tahu.
”Ya, kami diminta pasang tulisan seperti itu. Mau dikirim premium dari Pertamina jam berapa kami tidak tahu,” kata seorang petugas SPBU di Jalan Majapahit.
Salah satu warga Prasetyo, 25, mengaku, sejak pagi dirinya mencari bensin jenis premium, namun hingga sore kemarin belum mendapatkan. Ia mengaku enggan membeli pertamax karena harganya terlalu mahal. ”Kalau pertamax kan harganya Rp 10 ribu per liter, mending untuk beli premium,” kata Prasetyo saat ditemui di SPBU Jalan dr Wahidin.
Warga lain yang sedang mengantre di SPBU Jalan S Parman adalah Siti Nurani, 39. Ia mengaku terpaksa membeli pertamax untuk pulang menuju rumahnya yang berada di Ungaran. ”Kalau harus nyari premium susah, padahal bensin mobil saya sudah mepet,” ujarnya.
Bahkan, Siti mengaku sudah beberapa hari terakhir ini terpaksa berganti pertamax. ”Meski mahal, tidak apa-apa, karena kan tetap butuh untuk operasional,” ujar karyawan bank swasta ini.
Salah satu staf operasional SPBU Jalan S Parman, David Setiawan mengatakan, stok premium sudah habis sejak siang sekitar pukul 14.00 kemarin. Namun hingga kemarin belum ada pengiriman premium dari Pertamina. ”Mungkin masih proses, untuk sementara kami hanya menjual pertamax. Banyak pengendara motor dan mobil yang akhirnya membeli pertamax,” jelasnya.
Akibat kelangkaan kemarin, praktis SPBU yang masih memiliki stok premium diwarnai antrean panjang. Di antaranya di SPBU Coco milik Pertamina di Jalan Ahmad Yani dan Jalan Sultan Agung depan Akpol Semarang.
Kelangkaan premium kemarin juga membuat para pedagang bensin eceran panen rezeki. Bahkan, mereka akhirnya menaikkan harga jual dari semula Rp 7 ribu per liter menjadi Rp 8 ribu. ”Kulakannya susah, Mas. Ya, terpaksa dinaikkan jadi Rp 8 ribu,” kata Joko, seorang pedagang bensin eceran di Jalan Sompok.
Terpisah, Assistant Manager External Relation PT Pertamina Region Jateng-DIJ, Roberth MV Dumatubun mengatakan, tersendatnya pasokan premium dan pertamax di antaranya karena kondisi cuaca yang belum kondusif dan unpredictable.
”Curah hujan tinggi dan lebat menyebabkan banjir dan longsor di beberapa daerah, sehingga memperluas daerah kawasan dampak banjir. Contoh kemarin Mangkang dan Kendal, padahal ini merupakan akses keluar Semarang,” paparnya.
Akibat dari kondisi tersebut, waktu tempuh mobil tangki Pertamina yang memasok premium ke SPBU-SPBU bertambah lama. ”Ditambah kemacetan lalu lintas dan kerusakan jalan, menuntut kehati-hatian awak armada tangki kami,” kata dia.
Sejauh ini, kata dia, sejumlah langkah telah dilakukan oleh Pertamina untuk mengantisipasi kondisi tersebut (kelangkaan premium, Red). Di antaranya, menambah armada mobil tangki (MT) dengan sistem spot charter dan menggunakan MT industri untuk membantu MT subsidi.
”Untuk penambahan MT ini sifatnya kondisional, kalau memang butuh banget baru ada tambahan. Kalau jumlah unitnya ada di masing-masing terminal bahan bakar minyak (TBBM). Yang jelas untuk hari ini (kemarin, Red) ada tambahan spot charter sebanyak 32 unit,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya melakukan alih suplai dari TBBM terdekat dengan lokasi SPBU agar memperpendek waktu tempuh, serta mengoperasionalkan TBBM selama 24 jam atau sampai dengan BBM terakhir dapat disalurkan. ”Kami juga membentuk satgas yang memonitor kondisi di lapangan dan monitoring suplai BBM,” tambahnya.
Sebelumnya, Robert mengatakan, terkendalanya penyaluran BBM di wilayah Kota Semarang dikarenakan pihaknya memprioritaskan pengiriman BBM ke wilayah Pantura Timur yang habis dilanda banjir. ”Karena saat terkena banjir, ada beberapa SPBU yang tidak bisa kami drop, untuk itu kami mengantisipasi panic buying sehingga kami memprioritaskan pasokan BBM ke daerah tersebut,” kata dia. (ars/aro/ce1)