4 Sungai Rawan Meluap Lagi

162

PEDURUNGAN — Sejumlah wilayah Kota Semarang yang terendam banjir akibat luapan Sungai Banjir Kanal Timur (BKT), Kali Babon, Kali Beringin, dan Kali Plumbon, dikhawatirkan masih akan terus terjadi jika intensitas hujan masih tinggi. Apalagi Pemkot Semarang baru bisa melakukan penanganan sementara, yakni menambal tanggul yang rendah menggunakan karung berisi pasir.
Sekretaris Dinas Pengelolaan Sumber Daya Alam Energi Sumber Daya Mineral (PSDA ESDM) Kota Semarang Rosid Hudoyo mengatakan, setelah melakukan pemantauan lapangan, keluarnya air dari sungai BKT bukan karena ada tanggul yang jebol. Tapi, karena ada sejumlah titik tanggul yang kondisinya memang rendah.
Dari hasil pemantauan air keluar dari titik tanggul yang ada di kawasan Kemijen, Bugangan, Citarum, dan Purwoyoso. ”Posisi tanggul di empat titik itu memang rendah, sehingga menjadi pintu keluar air BKT. Apalagi memang debit sungai meningkat tajam seiring derasnya hujan dengan waktu yang cukup lama,” terang Rosid kepada Radar Semarang, kemarin (5/2).
Pihaknya mengaku, belum bisa melakukan penanganan permanen, karena kondisi cuaca masih buruk. Penanganan sementara, hanya sebatas meninggikan titik tanggul yang rendah menggunakan karung berisi pasir dan tanah.
”Upaya kita hanya sebatas itu, sementara untuk rehab total atau penanganan jangka panjang masih perlu kajian mendalam. Kita akan koordinasi dengan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) yang memang memiliki kewenangan. Apalagi berkaitan dengan rencana normalisasi BKT,” tandasnya.
Menurut Rosid, faktor meluapnya air sungai BKT dari titik tanggul yang rendah, juga didukung peran manusia. Utamanya, yang mendirikan bangunan di sepanjang tanggul. Pembangunan rumah, secara tidak langsung akan merendahkan tanggul. ”Mungkin faktor manusia juga, karena ada rumah di sepanjang tanggul yang sampai tiga sap. Permukiman itu secara tidak langsung memengaruhi fungsi tanggul. Meski itu bukan penyebab utama tapi faktor penyebab rendahnya tanggul,” ujarnya.
Disinggung efektivitas drainase-drainase di Kota Semarang yang baru saja selesai dibangun, seperti sistem drainase di Johar, yang sampai saat ini belum bisa mengentaskan banjir di kawasan Bubakan, Johar, dan banjir di depan Kantor Pos, Rosid menyatakan, hal tersebut akan menjadi catatan tersendiri bagi Dinas PSDA ESDM dalam melakukan penanganan ke depan. ”Ini bagian dari evaluasi kami nanti. Ini menjadi catatan kami untuk penanganan ke depan,” katanya.
Dia menambahkan, penanganan banjir di wilayah tengah masih menunggu proses normalisasi Kali Semarang. Proses normalisasi meliputi drainase Boom Lama sampai Tugu Muda. ”Mungkin bulan Agustus sudah dinormalisasi,” ujarnya.
Pihaknya sendiri kebagian tugas melakukan normalisasi di long storage Bludrain dan sekitar Tawang, tepatnya di saluran Jalan Empu Tantular. Kegiatan-kegiatan itu akan menurunkan elevasi Kali Semarang hingga dua meter. ”Sepanjang elevasi Kali Semarang diturunkan, subsistem bisa mengikuti. Dan banjir di kawasan Semarang Tengah bisa berkurang bahkan bisa hilang,” terangnya.
Untuk masalah Kali Beringin, lanjut Rosid, menargetkan pembebasan lahan tuntas tahun ini. Dalam APBD 2014, pihaknya sudah mengalokasikan anggaran Rp 22 miliar untuk pembebasan. ”Saat ini, baru 30 persen yang terbayarkan. Tapi, kami yakin tahun ini bisa selesai, karena yang sepakat sudah mencapai 80 persen. Kalau memang yang 20 persen tidak sepakat, kita akan tempuh jalur konsinyasi,” tandasnya.
Terpisah, semakin parahnya banjir yang melanda wilayah Mangkang dan sekitarnya, menurut pakar hidrologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Dr Nelwan Dipl, salah satu penyebabnya karena Kali Bringin yang menjadi tempat lajunya air hujan sudah tidak mampu menampung debit air dari hulu.
”Bisa dibayangkan, dengan curah hujan yang tinggi, air mengalir dari atas begitu derasnya. Sementara yang di bawah kapasitasnya begitu kecil. Karena itu, mau tidak mau sungai tersebut harus dilebarkan. Karena kapasitasnya sudah tidak mencukupi,” bebernya.
Hanya saja, lanjut Nelwan, hal tersebut terkendala dengan lahan milik warga. Mereka mematok harga yang tinggi ketika hendak dibeli oleh pemerintah.
Untuk cara lain yang bisa dilakukan untuk menghambat laju air dari atas, menurut Nelwan adalah dengan membuat bangunan terjun di sungai. Dengan membuat permukaan sungai secara zigzag antara terjun dan landai, maka kecepatan air akan berkurang dan air tidak akan nggrojok begitu hebatnya.
”Namun hal tersebut hanya berlaku untuk jangka pendek dan hasilnya tidak seratus persen. Yang paling efektif adalah relokasi,” katanya.
Sedangkan dosen Teknik Sipil Unika Soegijapranata Ir Djoko Suwarno MSi menilai, salah satu penyebab kenapa terjadi banjir adalah karena desain daerah aliran sungai (DAS) di bagian hulu yang dihitung sebelum banjir mengalami perubahan. Perubahan tersebut disebabkan catchment area atau resapan air sekarang yang telah berubah menjadi kawasan permukiman, industri, dan pembangunan. ”Percobaan sederhana, ketika membuang air ke tanah dan ke jalan raya atau lahan yang disemen, yang paling besar mengalirnya adalah yang kedua,” ujarnya.
Penyebab kedua, lanjut Djoko adalah adanya pendangkalan pada saluran air. Sehingga tidak mampu membendung dan menahan laju air. Adapan solusinya adalah dengan melakukan pengerukan kembali saluran air yang mengalami sedimentasi tersebut. ”Selain itu, perlu dilakukan penghitungan kembali daya tampung saluran air dengan melihat curah hujan yang terjadi. Misalnya, untuk curah hujan sekian, maka salurannya juga sekian. Begitu seterusnya,” beber dosen yang tengah merampungkan studi S3 di Belanda ini.
Sementara itu, bencana banjir yang melanda sejumlah kawasan di Semarang membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang bekerja lebih ekstra. BPBD juga harus me-manage stok logistik untuk korban bencana. Meski saat ini stok bantuan masih mencukupi, namun tidak menutup kemungkinan akan kritis, jika dalam bulan Februari ini intensitas hujan masih tinggi.
”Prediksi minggu ketiga bulan ini intensitas hujan menurun. Sepanjang tidak terus-menerus, logistik sampai bulan Februari ini masih aman dan bisa sisa. Tapi, kalau lebih dari bulan ini (Februari), kita akan menggunakan dana kedaruratan untuk pengadaan logistik” kata Kepala BPBD Kota Semarang Iwan Budi Setiawan kemarin.
Apalagi status darurat bencana untuk Kota Semarang diperpanjang hingga satu minggu ke depan. Sebagai konsekuensinya, keran dana kedaruratan dan dana kejadian tidak terencana harus dibuka lebar-lebar. Berdasar data dari BPBD, saat peristiwa bencana pada Januari 2014, pemkot telah mengucurkan dana kedaruratan sebesar Rp 700 juta untuk korban tanah longsor yang ada di Semarang.
Ditanya kerugian total akibat bencana banjir dan tanah longsor, Iwan mengaku selama ini pendataan kerugian memang belum bisa dilakukan dengan optimal. Sebab, masih terkendala keterbatasan personel baik secara kuantitas maupun kualitas. Di tubuh BPBD, saat ini hanya ada 27 petugas rescue. Sebelumnya memang 30 petugas, tapi tiga telah pindah tugas. ”Pendataan kerugian korban bencana memang masih menjadi kekurangan kami. Saya akui itu perlu ditingkatkan. Kami masih menyusun pendataan itu dengan dibantu camat dan lurah,” katanya. (zal/fai/aro/ce1)