Pesanan Meningkat, Kawinkan Lebah

19

Ketika Buah Naga Jadi Primadona Imlek
Petani buah naga di Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, kewalahan memenuhi permintaan buah naga dari berbagai wilayah.

PRISTYONO HARTANTO
BUAH naga memiliki arti kemakmuran bagi masyarakat Tionghoa. Sehingga buah tersebut banyak dibeli untuk pelengkap dalam perayaan Imlek. Begitu banyaknya pesanan, membuat petani di desa yang menjadi sentra buah naga terbesar di Kabupaten Semarang itu, kehabisan stok.
Kepala Desa Wonokerto, M. Zuhdi mengatakan, di desa yang dipimpinnya, ada 112 KK yang menanam buah naga. Per KK dibatasi jumlah tanaman buah Naga. Yaitu, 100 tanaman. Tujuannya, agar tidak terjadi monopoli penjualan. Penjualan harus melalui kelompok tani yang dibentuk.
Buah naga di Desa Wonokerto juga dipilah sesuai kelasnya. Untuk kualitas A, harganya Rp 20 ribu/kilogram, kualitas B harganya Rp 15 ribu/kilogram dan kualitas C dihargai Rp 12 ribu/kilogram.
”Satu tiang tanaman, dapat menghasilkan buah naga sebanyak 2-3 kilogram bahkan lebih. Kalau ada 100 tanaman, bisa kelihatan berapa kilo sekali panen. Masa, panen sudah diatur sehingga setiap minggu dapat panen. Kemudian dikumpulkan di kelompok untuk didistribusikan pada pemesan,” ujar Zuhdi pada Radar Semarang, Jumat (31/1) pagi kemarin.
Hasil panen dijual ke sejumlah daerah di Kabupaten Semarang hingga kota lainnya di Jawa Tengah. Kebanyakan buah naga terserap di sejumlah supermarket, pasar tradisional, dan pesanan masyarakat yang datang langsung ke perkebunan buah naga.
Zuhdi melanjutkan, peningkatan permintaan mulai terasa seminggu sebelum Imlek. ”Bahkan permintaan buah naga meningkat 3-4 kali lipat pada perayaan Imlek. Katanya, buah naga itu simbol kemakmuran dan berkhasiat, sehingga banyak dibeli pada perayaan Imlek.”
M. Arifin, 35, petani buah naga yang tinggal di RT 3 RW 1, Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak, membenarkan peningkatan permintaan buah naga sudah terasa seminggu sebelum Imlek.
Karena itu, kata pria yang tergabung dalam Kelompok Tani Ngudi Raharjo, sejumlah pelanggan sudah menaikkan jumlah pesanan. Hal itu dilakukan seminggu sebelum Imlek. Bahkan, banyak juga masyarakat yang datang untuk memesan langsung.
”Biasanya seminggu bisa panen 0,5 ton dan semua terserap, karena panen menyesuaikan jumlah permintaan. Saat Imlek, permintaan bertambah 3 kali lipat dari biasanya.”
Habisnya persediaan buah naga, selain karena permintaan meningkat, juga karena faktor cuaca. Cuaca memengaruhi pembuahan tanaman hingga menghasilkan buah. Meski begitu, petani sudah membuat metode pembuahan secara manual.
”Curah hujan memang berpengaruh pada minimnya produksi. Tapi, itu tidak signifikan. Sebab, kita punya metode yang membantu pembuahan bunga.”
Arifin menjelaskan, ”Jika curah hujan tinggi, jarang ada lebah yang membantu pembuahan. Bahkan serbuk sari sering rusak terkena air hujan. Untuk itu kita pakai metode mengawinkan secara manual dan bunga ditutup plastik agar tidak kena hujan. Jadi hasilnya tetap bagus.” (*/isk/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here