KPU Gelontor Sosialisasi Rp 3,9 M

18

SEMARANG-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng mengalokasikan anggaran Rp 3,9 miliar untuk menyosialisasikan Pemilu 2014. Harapannya bisa mencapai target partisipasi pemilih sebesar 75 persen di Provinsi Jateng.
Anggota KPU Jateng Divisi Sosialisasi dan Humas, Wahyu Setiawan mengatakan bahwa target partisipasi pemilih sebesar 75 persen merupakan ketentuan dari KPU pusat yang berlaku secara nasional. Sosialisasi sangat penting untuk menarik masyarakat bersedia datang ke tempat pemungutan suara (TPS).
”KPU akan mengerahkan segala daya untuk melakukan sosialisasi guna mencapai target partisipasi pemilih di Jateng sebesar 75 persen,” katanya.
Wahyu mengatakan target partisipasi pemilih 75 persen tersebut bukanlah pekerjaan yang enteng. Sebab pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2013, partisipasi pemilih di Jateng hanya sebesar 54 persen. Untuk menggenjot pemilih menjadi 75 persen, lanjutnya, diperlukan dukungan semua pihak. ”Kalau hanya dibebankan KPU saja, tidak akan tercapai,” ungkapnya.
Dikatakan, untuk mencapai target itu, KPU mengalokasikan anggaran Rp 3,9 miliar untuk kegiatan sosialisasi antara lain untuk beriklan di media massa cetak dan elektronik, pemasangan selebaran dan stiker. Selain itu, masih ada gerak jalan dan karnaval serentak pada Maret mendatang, pengadaan modul, serta membentuk Relawan Demokrasi di 35 kabupaten/kota.
Setiap kabupaten/kota terdapat 5 Relawan Demokrasi yang beranggotakan berbagai komponen masyarakat, dengan pemilih perempuan, kelompok agama, pemilih pemula, pemilih marjinal, dan pemilih difabel. ”Jumlah total Relawan Demokrasi se-Jateng sebanyak 875 orang. Mereka mendapatkan gaji Rp 350 ribu per orang per bulan,” ungkapnya.
KPU Jateng juga telah menjalin kerja sama dengan ormas Islam Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan ormas lainnya. Semua kelompok masyarakat akan didekati untuk menyuksekan Pemilu 2014.
Sementara itu, anggota Komisi A DPRD Jateng, Arif Awaludin menyatakan untuk mencapai 75 persen partisipasi pemilih pada Pemilu 2014 KPU tidak cukup bergantung pada sosialisasi. Namun, KPU juga harus membangun sinergitas dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jateng, supaya tidak terjadi benturan.
Sebab, menurut politisi dari PKS ini, di lapangan sering terjadi ketika ada warga membantu sosialisasi pemilu dicurigai Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) kabupaten/kota sebagai kegiatan kampanye. ”Tanpa adanya sinergitas dan kesepahaman antara KPU dan Bawaslu, maka target 75 persen partisipasi pemilih di Jateng sulit tercapai,” paparnya. (ric/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here