Keretakan Bertambah, Rumah Jadi Miring

123

MUNGKID– Hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari terakhir membuat keretakan tanah di Dusun Kranjang Lor Desa Sidosari Kecamatan Salaman semakin parah. Tidak hanya itu rumah-rumah mulai miring.
Kepala Dusun Kranjang Lor, Kusyadi mengatakan jumlah rusak permanen yang rusak karena bangunannya retak-retak saat ini terdata 50 rumah. Pada bangunan non permanen yang terbuat dari kayu, pergerakan tanah juga membuat puluhan rumah miring, dengan sudut kemiringan sekitar 70 derajat.
Dengan begitu banyaknya retakan yang muncul, Kusyadi mengatakan, warga, termasuk dirinya, seringkali mengabaikan, tidak menyadari kapan retakan tersebut mulai terlihat berupa garis, dan kapan mulai merekah.
“Saya sempat tidak memperhatikan adanya retakan-retakan di sekitar atap, dan akhirnya terkejut bukan kepalang ketika akhirnya atap ruang tamu mendadak roboh,” ujarnya.
Dia mengatakan selama lebih dari 10 tahun terakhir, retakan-retakan terus bermunculan di bangunan rumah warga. Retakan ada di hampir setiap sudut rumah, merekah selebar satu milimeter hingga 20 sentimeter, dan membuat lantai rumah ambles.
Menurut dia, jumlah retakan yang ada di masing-masing rumah, baik yang masih berupa garis maupun sudah merekah, sudah tidak terhitung lagi. “Setiap bulan, kami selalu saja menemukan retakan-retakan baru di dalam rumah,” ujarnya.
Retakan-retakan pada bangunan rumah warga tersebut mulai muncul sekitar tahun 2000. Retakan ini, menurut dia, diduga karena dipicu oleh pergerakan tanah karena karakteristik tanah yang memang cenderung labil.
Robohnya atap ruang tamu tersebut terjadi bersamaan dengan robohnya atap rumah seorang warga lainnya, pada tahun 2011. Jarwadi, 74, seorang warga lainnya, mengatakan, karena masih ingin bertahan tinggal di Dusun Kranjan Lor, maka satu-satunya upaya yang dapat dilakukan agar tetap nyaman tinggal di rumah adalah dengan cara memperbaiki setiap kerusakan bangunan yang muncul.
“Jika dihitung-hitung, biaya untuk memperbaiki rumah menghabiskan jutaan rupiah per tahun,” ujarnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Joko Sudibyo mengatakan, kondisi tanah di Dusun Kranjang Lor memang cenderung labil dan termasuk sebagai daerah rawan longsor. Kendatipun demikian, berdasarkan hasil rekomendasi dari sejumlah ahli geologi dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan dari Jepang yang pernah melakukan penelitian di daerah tersebut, warga Dusun Kranjang Lor tidak perlu direlokasi.
Sementara itu, hujan yang terus mengguyur patut menjadi perhatian bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana tanah longsor. Salah satunya adanya bencana tanah longsor ini patut diwaspadai di Dusun Tobong Desa Margoyso Kecamatan Salaman. Akibat hujan deras yang mengguyur beberapa hari belakangan, rumah salah satu warga terancam hanyut berbarengan material longsoran.
Dapur rumah Ti Mar’ah warga Dusun Tobong RT 02 RW 01 nyaris hanyut terbawa material longsor. Parit yang dialiri air cukup deras di samping rumahnya hampir menghanyutkan dapur rumah Ti Mar’ah. Meski ketinggian tebing hanya sekitar 6 meter namun air terus menggerus bangunan bawah dapur tersebut.
Kasi Pemerintahan Umum Pemerintah Desa Margoyoso Hartanto Dwi Putro mengatakan, tanah longsor yang hampir menghanyutkan dapur rumah itu terjadi ketika hujan deras. Aliran air yang mengalir di samping rumah terus menggerus tanah di bawah bangunan dapur. “Sehingga dapur rumah nyaris terbawa material. tanah,” ujarnya kemarin. (vie/lis)