Jembatan Pantianom Nyaris Putus

727

Warga Khawatir Jalur Memutar 20 Km
KAJEN — Jembatan Desa Pantianom, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, rusak berat karena tergerus arus sungai. Padahal, jembatan sepanjang 88 meter dan lebar 96 meter tersebut, menghubungkan dua kecamatan: Sragi dan Bojong, Kabupaten Pekalongan.
Kini, jembatan yang semula digunakan kendaraan roda empat serta truk, dari kedua arah, sejak Jumat (31/1) kemarin, mulai ditutup. Kendaraan roda empat dilarang melintas, karena kondisi jembatan sangat membahayakan.
Catatan koran ini, jembatan Pantianom merupakan akses jalan antar-kecamatan Sragi dan Bojong untuk menuju ke Kajen, Kabupaten Pekalongan. Atau sebaliknya, menuju ke Pemalang via jalan alternatif terdekat, jika dibandingkan melalu jalur pantura Sragi menuju Wiradesa di Kabupaten Pekalongan.
Dengan rusaknya jembatan Pantianom, warga harus memutar sejauh 20 kilometer untuk menuju jalur pantura Sragi.
Siti Romlah, 45, pedagang sayur keliling bersepeda onthel, Jumat (31/1) siang kemarin, mengaku khawatir setiap melintas di atas jembatan.
Kata Siti, setiap kali melintas, ia mendengar suara berdenyit dari jembatan. Kondisi jembatan juga agak goyang. Menurut dia, sejak sebulan terakhir, kondisi jembatan sudah mengkhawatirkan.
”Saya tidak berani naik sepeda di atas jembatan, karena selalu goyang setiap kali berpapasan dengan kendaraan lain,” ungkap Siti, warga Desa Pantianom RT 03 RW 02, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan.
Hal senada dikatakan Ahmad Khambali, 31, PNS yang bekerja di Sekda Pemkab di Kajen. Ia merasa khawatir setiap kali melintas di atas jembatan Pantianom.
Jika jembatan itu putus, Ahmad mengaku harus berangkat ke kantor lebih pagi. Karena harus memutar sejauh 20 kilometer atau 1 jam lebih lama. ”Semoga jembatannya tidak putus dan hujan tidak turun lagi.”
Kepala Desa Kalijambe, Kecamatan Sragi, Nur Subagyo, menyampaikan, rusaknya jembatan karena arus sungai Sragi langsung menuju ke pondasi jembatan.
Ia mengaku perlu adanya pembuatan talut untuk menahan arus sungai agar tidak terjadi longsor pada pondasi jembatan. ”Sebulan yang lalu, pihak desa sudah membuat laporan ke PSDA, namun hingga saat ini belum ada tanggapan.”
Kepala Dinas Pengairan Sumber Daya Air (PSDA), Kabupaten Pekalongan, Bambang Pramukanto, membenarkan rusaknya kondisi jembatan Pantianom karena tergerus sungai.
”Rencananya akan kita buat bronjong dari batu kali, sepanjang 120 meter dengan ketinggian hingga 5 meter, namun hingga saat ini belum ada dana untuk pembuatan brojong.”
Bambang mengklaim, pihaknya sudah mengajukan anggaran perbaikan ke PSDA Jawa Tengah. Nilainya, Rp 1 miliar agar jembatan tersebut tidak rusak dan ambruk. (thd/isk/ce1)

Tinggalkan Komentar: