SALATIGA — Besarnya gaji yang diterima para guru bersertifikasi, harus diimbangi dengan jam mengajar yang padat. Termasuk, para kepala sekolah (kasek) di sekolah menengah yang memiliki jadwal wajib jam mengajar sedikitnya 6 jam dalam seminggu agar tetap bersertifikasi.
Disinyalir, masih ada kasek bersertifikasi tidak mematuhi ketentuan aturan jam mengajar. Modusnya, guru yang mengajar pada saat jam kepala sekolah, digantikan oleh guru lain.
”Kami meminta bantuan kepada dinas atau DPRD untuk mengingatkan permasalahan ini. Tugas utama kepala sekolah adalah melaksanakan proses pembelajaran selama enam jam. Jabatan kepala sekolah adalah tugas tambahan,” tutur salah satu guru yang tidak mau namanya disebutkan saat bertemu wartawan, kemarin.
Ia menuturkan, banyak contoh dan sangat mudah untuk membuktikan. Salah satunya, dengan meminta jadwal mengajar para kasek dan menanyakannya kepada anak didik, siapa guru yang mengajar. ”Ada juga yang mengajar guru GTT, dan biasanya mereka hanya bisa mengeluh di belakang,” tutur sumber itu.
Terpisah, Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kota Salatiga, Beni Ridwan mengakui permasalahan tersebut. Menurut Beni, masalah itu sudah jadi problem nasional dan di mana pun terjadi. ”Kan ada pengawas, juga tim audit kinerja guru. Mereka seharusnya lebih mengetahui permasalahan itu,” sentil Beni.
Beni meminta para pengawas sekolah tidak pekewuh mengingatkan kewajiban para kepala sekolah untuk mematuhi jam mengajar. ”Ini bisa diatasi dengan manajemen yang bagus. Kami harapkan para guru yang mengetahui permasalahan seperti itu, bisa melapor ke DPK untuk ditindaklanjuti. Kami siap,” tegas Beni.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Tedjo Supriyanto melalui Kabag Humas Adi Setiarso mengaku belum mengetahui permasalahan tersebut.
”Kami berterima kasih atas masukan tersebut dan segera melakukan evaluasi dan klarifikasi. Kami yakin, semua bertujuan untuk menjadikan pendidikan Salatiga menjadi lebih baik,” terang Adi melalui telepon pribadinya, kemarin siang. (sas/isk/ce1)