Dishub Uji Kir Model Jadul

163

Semprot Bodi Mobil
UNGARAN — Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Semarang masih menerapkan pola jadul (zaman dulu) dalam uji kir. Dinas ini tetap mempertahankan labelisasi uji kir dengan sistem semprot di bodi mobil.
Alasannya, untuk mempermudah pengawasan di lapangan. Padahal, saat ini, di beberapa kabupaten/kota sudah menerapkan sistem labelisasi kir dengan stiker.
Menurut Kasi Uji Kendaraan Dishubkominfo Kabupaten Semarang, Antonio Heru Kristiawan, labelisasi dengan pola lama, semata untuk memudahkan pengawasan.
Alasannya, jika menggunakan stiker, tulisannya berukuran kecil, sehingga petugas harus mendekat untuk mengecek. Namun, dengan labelisasi sistem semprot, tulisannya besar-besar sesuai standar. Sehingga mudah diawasi.
”Alasan lain, kalau stiker biayanya mahal, sedangkan semprot lebih murah,” ujar Antonio, Jumat (31/1) pagi kemarin.
Antonio mengatakan, per tahun, jumlah pemohon uji kir selalu meningkat 1 persen. Hal itu dipengaruhi bertambahnya jumlah kendaraan baru, mutasi dari daerah lain, dan menghidupkan kembali buku uji kir yang sudah lama tidak pernah diperbarui.
Kendaraan yang harus melalui uji kir adalah mobil niaga, baik penumpang umum— yakni angkutan umum dan taksi—s erta angkutan pariwisata. Juga kendaraan pengangkut barang seperti boks dan pikap.
”Sebagai gambaran, pada 2012 jumlah kendaraan ada 7.500 kendaraan, tahun 2013 naik 1 persennya. Untuk jumlah, masih kami kalkulasi. Di erkirakan, kenaikan 2014 juga naik 1 persen. Secara otomatis hal itu memengaruhi pemohon uji kendaraan.”
Menurut Antonio, target retribusi dari uji kir pada 2013 mencapai lebih dari Rp 1 miliar. Sebab jumlah kendaraan meningkat. ”Kesadaran masyarakat lumayan bagus, sehingga mereka rutin uji kir.” (tyo/isk/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here