SEBANYAK 15 kepala keluarga (KK) warga Trangklil Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati yang menolak direlokasi ke Rusunawa Kaligawe, sebagian masih bertahan di tenda pengungsian yang dibangun Kodam IV/Diponegoro. Mereka keberatan pindah, karena tempat tersebut dekat dengan tempat kerja dan sekolah anak.
Salah satu warga, Suroso, 52, mengaku, ogah pindah karena anaknya masih sekolah di SMK Negeri 4 yang relatif dekat jika ditempuh dari Trangkil ketimbang dari Kaligawe. Selain itu, istrinya bekerja di Sampangan.
”Kalau pindah ke rusunawa terlalu jauh, kerja saya juga di Semarang bawah,” katanya.
Suroso mengaku, sampai saat ini masih mencari rumah kontrakan. ”Saya masih mencari rumah kontrakan yang tidak jauh dari tempat kerja saya dan istri. Untuk sementara tinggal di tenda pengungsian ini,” ujarnya kepada Radar Semarang.
Suroso sendiri belum berpikiran untuk membangun kembali rumahnya di Trangkil Baru yang rusak akibat bencana longsor. Sebab, pemerintah kota juga melarang tempat tersebut dijadikan permukiman kembali. ”Mungkin akan saya tanami pohon saja. Jadi simpanan,” katanya.
Diakui, pemkot telah menyediakan bibit tanaman buah maupun tanaman keras, dan warga tinggal mengambil secara gratis.
Warga lainnya, Suyadi juga tetap memilih bertahan di tenda pengungsian milik TNI ketimbang ikut pindah ke Rusunawa Kaligawe.
Di sisi lain, Supriyono, 41, mempertanyakan dana bantuan pemkot yang tidak merata. Ia dan empat warga yang rumahnya rusak mengaku tidak mendapat bantuan Rp 10 juta seperti warga yang lain. Padahal dapur rumahnya juga rusak parah.
Kelima warga itu, selain Supriyono, adalah Wagimin, Satyo, Jarwaji dan Agustri.
”Yang rumahnya masih kokoh dan tidak rusak justru dapat bantuan Rp 10 juta, asal mau pindah ke Rusunawa Kaligawe,” keluhnya.
Ia meminta pemkot menyeleksi warga Trangkil Baru yang kerusakan rumahnya parah, sedang, dan ringan. ”Kok semuanya sama mendapatkan dana bansos Rp 10 juta, padahal kerusakannya tidak sama,” katanya.
Supriyono dan empat warga lainnya mengaku diminta membuat surat pernyataan yang isinya tidak akan menuntut apa-apa jika suatu saat terjadi sesuatu di Trangkil Baru. Surat tersebut ditandatangani oleh ketua RT, Lurah dan Camat. ”Soalnya jangan sampai nantinya ketika masih tinggal di sini menjadi masalah,” ujarnya. (hid/aro/ce1)