Barang Bekas Menumpuk di RSUD

212

AMBARAWA — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ambarawa kesulitan untuk mengembangkan bangunan.
Alasannya, masih ada ratusan barang bekas yang masih menjadi aset Pemkab, menumpuk di dua gudang. Sejumlah barang bekas tersebut, antara lain, kipas angin, komputer dan televisi, kulkas, dan lampu operasi. Juga peralatan elektronik dan peralatan kesehatan. Karena tempatnya tidak muat, sejumlah dipan bekas diletakkan di pinggiran ruang perawatan.
Pihak rumah sakit sudah melakukan pengajuan penghapusan aset tersebut. Sehingga gudang bisa dimanfaatkan menjadi ruang pusat sterilisasi alat-alat medis.
Dirut RSUD Ambarawa dr Rini Susilowati mengatakan, ruang pusat sterilisasi sangat dibutuhkan. Dengan adanya ruangan tersebut, akan lebih mudah dalam pengelolaan. Sebab, selama ini, sterilisasi peralatan medis berada di masing-masing unit penanganan.
”Idealnya ada ruang sentral sterilisasi peralatan medis. Sehingga kalau ada tindakan operasi, tinggal ambil dari ruangan itu. Saat ini sterilisasi baru ada di masing-masing tempat.”
Meski begitu, menurut Rini, pihaknya kesulitan melakukan penataan. Sebab, lokasi yang rencananya akan digunakan untuk ruangan tersebut, masih ada ratusan jenis barang bekas.
Menurut Rini, ada sebagian barang yang masih bagus, terpaksa dihibahkan ke sejumlah Puskesmas.
”Sebenarnya kita akan pakai gudang barang bekas, tempatnya mencukupi. Hanya saja masih banyak barang bekas di sana. Untuk itu harus dilakukan penghapusan aset lewat Pemkab, sehingga gudang dapat dikosongkan kemudian dibangun.”
Rini melanjutkan, pihaknya sudah mengajukan penghapusan aset yang sudah rusak ke Dinas Pengelolaan Pendapatan Keuangan Daerah (DPPKAD) pada Oktober 2013. DPPKAD juga sudah melakukan pengecekan. ”Harapan kami segera dilakukan penghapusan.”
Anggota DPRD Kabupaten Semarang, The Hok Hiong meminta aset tidak berguna di rumah sakit untuk dihapuskan.
”Kami men-support agar rumah sakit itu lebih baik lagi. Saat ini sudah baik, tapi akan lebih baik jika aset yang tidak berguna itu dibuang dengan penghapusan melalui aset daerah.” (tyo/isk/ce1)