SEMARANG – Penjualan rumah sederhana di Jawa Tengah tersendat, bahkan banyak pengembang yang menghentikan pembangunannya, menyusul belum jelasnya harga jual rumah sederhana melalui fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan atau FLPP.
Menurut Wakil Ketua Bidang Rumah Sederhana Real Estate Indonesia (REI) Jateng, Andik Kurniawan, tersendatnya pembangunan rumah bersubsidi ini lantaran pengajuan kenaikan rumah bersubsidi dari Rp 88 juta menjadi Rp 104 juta masih menunggu persetujuan Menteri Keuangan untuk penghapusan pajak pertambahan nilai (PPN). Sementara dengan harga lama sekitar Rp 88 juta, para pengembang enggan membangun mengingat harga bahan baku mengalami kenaikan cukup signifikan.
”Kementerian Perumahan sudah setuju kenaikan dari Rp 88 juta jadi Rp 104 juta untuk Jateng. Tapi masih menunggu persetujuan Kementerian Keuangan untuk penghapusan PPN-nya,” ujarnya di sela penutupan REI Expo Jateng pertama 2014 kemarin.
Menurut Andi, pada tahun 2013 lalu, realisasi pembangunan rumah sederhana hanya 1.500 unit, dari target sebesar 12.000 unit. Dengan kenaikan besaran FLPP itu, diharapkan akan meningkatkan minat para pengembang untuk membangun rumah sederhana.
Kenaikan rumah bersubsidi, diharapkan akan membantu pengembang mendapatkan lahan yang ideal untuk membangun rumah sederhana. Untuk REI Jateng berharap aturan tentang kenaikan harga rumah bersubsidi segera dikeluarkan untuk memacu pembangunan rumah sederhana di provinsi ini. Diakui mandeknya pembangunan rumah bersubsidi mengganggu target pembangunan rumah di Jateng, apalagi angka backlog atau kebutuhan rumah di wilayah ini mencapai 30.000 unit. ”Kami berharap aturan baru segera keluar, sehingga pembangunan rumah sederhana untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dapat segera direalisasikan. Paling tidak dengan aturan baru dengan kenaikan harga rumah menjadi Rp 104 juta, target pembangunan rumah sederhana bisa sama seperti dua tahun lalu yakni 12.000 unit rumah,” tuturnya.
Sementara itu hasil transaksi pameran, REI ke-1 tahun 2014 mulai 17-28 Januari menurut Kepala Bidang Promosi REI Jateng, Juremy, mencapai Rp 38 miliar atau 41 unit. Jumlah transaksi ini akan bertambah, karena masih ada beberapa pengembang yang belum melaporkan hasil penjualan. Diakui, penjualan pada pameran ini mengalami penurunan 15 persen dibandingkan periode tahun lalu. Hal ini dikarenakan faktor cuaca yang hujan terus-menerus, sehingga menyebabkan orang enggan datang ke pameran. (tya/smu/ce1)