25.7 C
Semarang
Jumat, 13 Desember 2019

Pelayanan KB Tak Optimal

Must Read

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

KALIWIRU – Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jateng memprihatinkan pelayanan KB saat ini yang terkesan kurang optimal. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dianggap tidak getol lagi menyosialisasikan program tersebut sehingga ancaman ledakan penduduk semakin nyata.
”BKKBN sudah tidak getol lagi seperti zaman dulu dalam pelayanan KB sehingga diestimasikan terjadi ledakan jumlah penduduk,” ujar Ketua PKBI Jateng Hartono Hadi Saputro usai penandatanganan nota kesepahaman PKBI Jateng, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), dan Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) di Gama Candi Resto, kemarin.
Menurutnya, jika dihitung dalam satu tahun, pertambahan penduduk Indonesia rata-rata mencapai 50 juta jiwa. Sehingga dengan jumlah penduduk Jateng yang mencapai 38 juta jiwa, diperkirakan provinsi ini memberikan andil pertambahan penduduk 2-3 juta jiwa per tahun. Hal itu tidak seimbang dengan produksi pangan yang ada. Hartono berharap berbagai permasalahan tersebut menjadi bahan penelitian mahasiswa.
Dia juga menyoroti gaya hidup perempuan saat ini yang karena kesibukan yang tinggi membuat mereka terlambat menikah. Hal tersebut berpengaruh terhadap masa reproduksi. ”Saat ini wanita umumnya menikah pada umur 35 sampai 38 tahun. Nanti setelah menikah dua tahun lagi tidak bisa hamil,” katanya.
Hartono mengkritik banyak perempuan yang terlalu aktif dengan kesibukan sehingga melupakan tugas biologis untuk menghasilkan keturunan. Mereka menjadi terlambat menikah dan terlambat mempunyai anak.
Sementara di sisi lain, masyarakat kalangan bawah bereproduksi terus. Akibatnya generasi muda lebih banyak yang kurang berpendidikan. ”Salah satu dampaknya terjadi ledakan ekspor PRT (pembantu rumah tangga),” ungkapnya.
Sementara Dekan FKM Unimus Mifbakhuddin mengatakan kerja sama dilakukan dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Terutama pengabdian kepada masyarakat bagi mahasiswa. ”Ke depan mahasiswa kami akan magang di PKBI. Juga ada kuliah tamu dari PKBI dan LP2K,” paparnya. (ric/ton/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Rombak Kurikulum

Reformasi besar-besaran. Di bidang kurikulum pendidikan. Itulah instruksi Presiden Joko Widodo. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Kemarin. Kata 'reformasi' saja sudah sangat ekstrem. Apalagi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -