Dua Desa Terancam Terisolasi

33

Jalan dan Jembatan Nyaris Putus
UNGARAN — Warga Desa Mluweh dan Kalikayen, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang terancam terisolasi. Sebab, jalan poros desa dan jembatan penghubung antar-desa dengan Kota Ungaran dan Kota Semarang, nyaris putus.
Kerusakan jalan dan jembatan, karena tanah di desa tersebut longsor, akibat kikisan hujan. Ada kemungkinan, tanah di kawasan itu labil. Sehingga kerap terjadi pergeseran lapisan tanah. Kondisi tersebut diperparah dengan turunnya hujan, sehingga tanahnya terkikis.
Pantauan Radar Semarang, Selasa (28/1) pagi kemarin, Jalan Ungaran-Mluweh yang terbuat dari beton selebar 3 meter dengan panjang 10 meter, mengalami kerusakan karena tanahnya longsor. Jalan tersebut, di kanan dan kirinya, merupakan jurang.
Titik longsor berada sekitar 1 kilometer dari objek wisata hutan Penggaron. Posisi badan jalan sudah menggantung. Sebab tanah yang ada di bawahnya longsor. Badan jalan juga retak, sehingga dikhawatirkan tidak lama lagi akan putus.
Jalan yang rusak tersebut, sebenarnya masih tergolong baru. Sebelumnya, jalan tersebut ambles pada April 2013 lalu. Pemkab telah membuat bronjong batu penahan longsor. Tapi, tidak mampu menahan gerak tanah yang terkikis air hujan. Mengantisipasi agar longsor tidak parah, warga memasang trucukan (bambu penahan).
Kepala Desa Mluweh, Sudadi Cokro Aminoto menjelaskan, jalan yang mengalami kerusakan adalah jalan baru. Sudadi menilai, konstruksi jalan sudah bagus. Sebab, hampir seluruh badan jalan, kondisi masih baik.
Ia mengaku hanya pada titik tersebut yang mengalami kerusakan. Sebab, tanahnya labil.
”Terakhir diperbaiki pertengahan 2013. Mau mulai longsor lagi hingga posisi jalan menggantung karena tanahnya tergerus ke bawah.”
Sudadi mengatakan, kondisi jalan tersebut sangat membahayakan. Sebab, badan jalan sudah menggantung karena tanah di bawahnya longsor. Bahkan, jalan beton tersebut, sudah retak memanjang selebar jalan.
Ia khawatir, ketika ada mobil atau motor melintas, jalan itu akan patah. Kini, masyarakat dua desa terpaksa harus memutar arah ke Kota Semarang untuk menuju ke Ungaran.
”Jalan ini menjadi satu-satunya akses warga menuju ke Ungaran sebagai kota administratif dan jaraknya hanya 7 kilometer. Tapi, jika terputus, maka kami harus berputar ke Kota Semarang yang jaraknya bisa mencapai 30 kilometer lebih. Tentu ini akan mengganggu perekonomian warga, juga pendidikan anak-anak.”
Selain kondisi jalan yang rusak, Sudadi juga mengkhawatirkan putusnya jembatan Kaliloning penghubung Mluweh dan Desa Kalikayen. Juga jembatan Porang yang menghubungkan ke Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Dua jembatan itu dikhawatirkan rusak tidak bisa dilalui. Sebab, tanah pada fondasi penyambung jembatan dengan jalan sudah longsor.
”Jika jalan itu putus, lalu dua jembatan rusak tidak bisa dilalui, sudah dipastikan masyarakat dua desa akan terisolasi, tidak bisa ke mana-mana. Maka kami mohon Pemkab secepatnya memperbaiki,” pinta Sudadi.
Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Semarang, Mas’ud Ridwan mengatakan, kondisi jalan tersebut sudah sangat parah. Sehingga harus segera mendapatkan penanganan serius.
”Jika jalan itu putus, efeknya sangat besar karena menghambat aktivitas warga. Tentu warga kesulitan dalam segala hal baik perekonomian maupun pendidikan.” Ia meminta dinas teknis atau dinas terkait masalah ini segera melakukan kajian. (tyo/isk/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here