KAJEN – Puluhan petani ikan bandeng di Desa Api-Api, Desa Tratebang, dan Desa Pecakaran, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, terpaksa panen dini.
Hal itu dilakukan lantaran tambak ikan terendam banjir, sehingga banyak ikan yang mati dan hilang terbawa arus banjir.
Ikan bandeng yang semula akan dipanen untuk menyambut Imlek seharga Rp 26 ribu per kilogram, kemarin, terpaksa dipanen lebih awal. Meski, ukuran ikan bandeng belum cukup besar.
Meski rugi, petani mengaku bersyukur, karena masih bisa memanen ikan-ikan mereka. Hasilnya, bisa untuk membeli bibit ikan bandeng kembali.
Kasbollah, 52, petani ikan tambak warga Desa Pecakaran RT 09/RW 04, Kecamatan Wonokerto menuturkan, banjir menyebabkan banyak ikannya mati. Juga hanyut terbawa arus.
Menurut Kasbollah, dari 200 kilogram yang rencananya dipanen, kini hanya ada 50 kilogram saja. Itu pun, seharga Rp 17 ribu per kilogram, bukan Rp 26 ribu seperti harapan para petani.
”Kalau tidak dipanen sekarang, saya khawatir akan banyak yang mati. Lumayan dapat 50 kilogram, daripada tidak dapat sama sekali,” ungkap Kasbollah.
Kasbollah mengatakan, meski harga ikan bandeng per kilogram saat ini mencapai Rp 26 ribu, untuk ukuran 1 kilogram 5 ekor ikan, namun ia masih bersyukur. Sebab, harga ikannya dihargai cukup tinggi.
”Biasanya, untuk ikan seukuran kecil seperti ini, hanya Rp 10 ribu per kilogram. Ini dihargai Rp 17 ribu. Meski rugi, namun tidak terlalu banyak,” kata Kasbollah.
Sekretaris Kelompok Petani Ikan Mina Jaya, Kecamatan Wonokerto, Darmawan, menjelaskan, sejak banjir seminggu lalu, banyak petani ikan yang merugi hingga puluhan juta. Menurut dia, cuaca yang tidak menentu, membuat petani memanen ikannya lebih awal.
”Petani ikan takut rugi lebih banyak lagi, karena banjir susulan masih sering terjadi, sementara saat ini permintaan ikan bandeng sedang bagus, menjelang perayaan Imlek.”
Darmawan menuturkan, sebelum bencana banjir terjadi, rata-rata petani ikan bandeng, dengan luasan 1 hektare, bisa untung antara Rp 15 hingga Rp 25 juta. Namun, dengan adanya banjir, petani ikan cuma balik modal saja sudah sangat bagus.
”Banjir kali ini, membuat petani banyak yang rugi,” tutur Darmawan.
Ketua Kelompok Petani Ikan Mina Jaya, Kecamatan Wonokerto, Wiranto, menambahkan, petani ikan yang panen lebih awal bertambak di Desa Api-Api, Tratebang, Pecakaran, dan Wonokerto.
Ia berharap Pemkab Pekalongan memberikan pinjaman lunak kepada petani ikan, agar mereka tidak terpuruk berkepanjangan. ”Saya minta Dinas Perikanan memberikan pinjaman lunak, agar petani ikan ini bisa kembali lagi bekerja. Atau mungkin adanya bantuan bibit dan pakan ikan.”
Rukiyah, 45, pedagang ikan di Pasar Ikan Wonokerto, mengaku, menjelang Imlek, dalam sehari, ia bisa menjual 75 kilogram ikan bandeng, seharga Rp 25- 26 ribu per kilogram.
Menurut dia, banyaknya petani bandeng yang gagal panen, membawa berkah bagi dagangannya. ”Sejak banjir kemarin, harga daging mahal, nelayan tidak melaut, sehari saya bisa jual 50 hingga 75 kilogram ikan bandeng.”
Kepala Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan, Kabupaten Pekalongan, Teguh Iryanto, mengatakan, pihaknya sedang menginventarisasi jumlah tambak ikan yang terkena banjir. Juga, jumlah petani yang merugi. Menurut dia, lebih dari 50 persen tambak ikan di Kecamatan Wonokerto, terkena banjir, dengan nilai kerugian mencapai Rp 500 juta. (thd/isk/ce1)