DEMAK — Banjir yang melanda wilayah pesisir Demak, berdampak pada petani tambak. Mereka terpaksa gigit jari, lantaran ikan bandeng yang dipelihara, lepas semua. Petambak mengalami kerugian antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta.
Penasihat Kelompok Nelayan Putra Manunggal Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Khoiron Imron mengatakan, ikan bandeng milik petambak, kini justru menjadi hasil tangkapan para nelayan kecil yang melaut di sekitar pantai.
”Sekarang ini yang untung nelayan kecil. Sebaliknya, petambak buntung karena rugi besar, akibat tambaknya tenggelam. Ikan yang ditanam di tambak tersapu banjir,” ungkap Khoiron, kemarin.
Dikatakan, para nelayan kini sudah mulai melaut, menyusul cuaca yang membaik dalam dua hari ini. ”Dua puluh hari sebelumnya, mereka istirahat karena cuaca buruk. Tinggi ombak laut saat ini juga berkurang hanya sekitar 1 meter. Sebelumnya mencapai 2 hingga 3 meter,” katanya.
Penghasilan nelayan pun lumayan. Sekali melaut, bisa memperoleh antara 5 kg hingga 10 kg ikan udang. Mereka juga panen rajungan. Harga rajungan di pasaran mencapai Rp 60 ribu per/kg. Ikan-ikan itu lantas dijual ke pengepul.
”Hasil tangkapan ini bisa membantu memulihkan ekonomi para nelayan. Sebab, sudah tiga minggu mereka tidak melaut.”
Gelombang tinggi, kata dia, ada juga manfaatnya. Sebab bisa membawa ikan-ikan ke pantai. Kendati demikian, nelayan tidak berani melaut. Selama tidak melaut, nelayan mengonsumsi beras miskin (raskin). Mereka juga menyambung hidup dengan lauk-pauk seadanya.
Ada pula yang sempat menggadaikan perhiasan emas ke pegadaian. ”Biasanya mereka juga menggadaikan pakaian dan elektronik. Tapi, sekarang tidak laku lagi,” jelas Khoiron. (hib/isk/ce1)