Tetap Direlokasi di Jalan Inspeksi
PURWODINATAN — Satpol PP Linmas Kota Semarang tidak ingin penertiban pedagang kaki lima (PKL) hanya sekadar hangat-hangat tahi ayam. Satuan yang dikepalai Gurun Risyadmoko ini menjamin PKL yang ditertibkan dan direlokasi tidak akan kembali ke tempat semula. Seperti penertiban PKL Jalan Agus Salim yang saat ini direlokasi di Jalan Inspeksi (samping gedung Johar Shopping Center). Meski memberikan waktu dua minggu untuk beradaptasi, bukan berarti para PKL boleh kembali lagi ke tempat semula, bagi mereka yang tidak kerasan atau tidak cocok.
Menurut Gurun Risyadmoko, dua minggu itu adalah waktu untuk penyesuaian para PKL dengan lokasi baru. Mereka tidak akan dikembalikan lagi ke Jalan Agus Salim jika tidak merasa cocok. Tapi akan tetap berada di Jalan Inspeksi, dan dicarikan solusinya.
”Jadi dua minggu itu, maksudnya adalah toleransi kita bagi PKL untuk penyesuaian dengan lokasi baru, karena sekarang sedang musim hujan. Kalau merasa dagangannya jadi tidak laku, nanti kita komunikasikan lagi, tapi tidak akan dikembalikan lagi ke tempat semula,” tegas Gurun kemarin.
Menurutnya, PKL di Jalan Agus Salim itu telah melanggar Perda No 11/2000 tentang PKL. Mereka menggunakan akses jalan raya dan trotoar untuk berjualan. Sehingga membuat jalan menyempit dan pejalan kaki berisiko tertabrak kendaraan. ”Penyempitan jalan, sudah banyak dikeluhkan masyarakat. Kita akan melakukan pengawasan terus, agar mereka tidak kembali lagi ke tempat semula,” ujarnya.
Supriyanto, salah satu PKL di Jalan Inspeksi, menuturkan, dagangannya menjadi tidak laku setelah pindah ke lokasi baru tersebut. Jalan Inspeksi dinilai lebih sepi pembeli daripada di Jalan Agus Salim. Namun ia mengaku akan tetap bertahan, karena hanya sementara selama dua minggu. ”Setiap hari di lokasi yang lama saya bisa mengantongi uang Rp 100 ribu, tapi di sini sangat sepi pembeli. Saya akan kembali ke lokasi yang lama, karena menurut kebijakan pemkot di Jalan Inspeksi ini hanya sementara,” katanya. Dikatakan, kemacetan di Jalan Agus Salim bukan hanya karena keberadaan PKL. Tapi juga disebabkan oleh pakir sepeda motor yang berada di kawasan tersebut.
Selain PKL Agus Salim, Satpol PP juga segera menertibkan PKL di sekitar RSUP dr Kariadi dan Tlogosari. Di sekitar RSUP dr Kariadi, para PKL membangun tempat semipermanen dan permanen di atas saluran. Dan mendirikan lapak di sebagian badan jalan, terutama di dekat pintu masuk rumah sakit. Hal itu melanggar aturan, sehingga harus dibongkar. ”PKL hanya boleh mendirikan tempat dagang di trotoar yang sistemnya bongkar pasang. Keberadaan PKL ini sudah sering dikeluhkan pihak rumah sakit,” terang Gurun.
PKL sudah membuat surat pernyataan, dalam 7 x 24 jam akan membongkar bangunan semi permanen dan permanennya. Batas waktu itu akan berakhir minggu depan, sehingga kalau tidak dibongkar, akan dibongkar paksa petugas. ”Begitu juga di Tlogosari, yang mendirikan lapak di atas jembatan untuk berjualan. Mereka sudah dipanggil untuk pindah, karena akan ada normalisasi sungai,” tandasnya. (zal/aro/ce1)