PATI-Sejak sepekan terakhir, banjir masih menggenang di ratusan desa di Pati. Pemkab Pati terus berupaya mendistribusikan bantuan logistik bagi masyarakat. Dari data yang dilansir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, tercatat sebanyak 149 desa di 17 kecamatan terendam banjir. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 17.915 pengungsi dari 4.191 kepala keluarga (KK).
Menanggapi permasalahan tersebut, Bupati Pati Haryanto menetapkan tanggap darurat bencana di Pati. Banjir terbesar di Pati ini, memaksa pemkab untuk mengalokasikan dana sebesar Rp 3,3 miliar. Sedangkan upaya pembagian logistik bersama Forkompimda dibagi menjadi empat tim agar menjangkau seluruh korban bencana di Pati.
”Untuk membantu masyarakat, kami juga berupaya membuat dapur umum di lokasi bencana. Selain itu, pelayanan kesehatan juga akan dimaksimalkan,” katanya kemarin.
Setidaknya tiga dapur umum berskala besar didirikan di Kecamatan Juwana, Sukolilo, dan Wedarijaksa. Pendirian itu dibantu dari berbagai pihak, terutama Kodam IV Diponegoro. Hingga kemarin, selain menutup akses jalan baik jalan nasional atau provinsi, genangan air juga membuat sejumlah desa terisolasi.
Seperti yang ada di Desa Ngastorejo, Karangrowo, Sendangmulyo, Kecamatan Jakenan; Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, dan beberapa desa lainnya. Bahkan, untuk Desa Kasiyan, ketinggian air di dalam rumah mencapai dada orang dewasa. Sebagian besar masyarakat memilih untuk mengungsi dari genangan.
Di lokasi itu, terdapat dua tenda pengungsian, sayangnya, kedua tenda tersebut kurang representatif. Saat hujan, tenda tertembus air, sehingga di dalam tenda suhu udara terasa sangat dingin.
Pemkab sendiri sudah melakukan rapat koordinasi teknis (rakornis). Dalam rapat tersebut diharapkan bisa memantau wilayah banjir dan penyaluran distribusi bantuan bagi korban bencana banjir bersama Forkompinda. Selain itu, pihaknya juga membangun komunikasi dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pronowo.
”Kami mengucapkan terima kasih bagi para relawan yang bersatu padu dan guyub membantu masyarakat yang terkena musibah,” ujarnya, kemarin.
Haryanto meminta, masyarakat untuk bersabar dalam menghadapi bencana yang terjadi. Di sisi lain, pihaknya juga menyayangkan maraknya informasi yang tidak jelas dan cenderung mengada-ada saat masyarakat ditimpa musibah. Sehingga kerap membuat masyarakat menjadi resah. Sebut saja, munculnya informasi akan dibukanya pintu Waduk Gembong, banyak bermunculannya ular kobra di wilayah kota dan lainnya.
Kondisi memprihatinkan juga terlihat di jalur pantura Pati-Rembang. Sejumlah titik jalan tergenang air dengan ketinggian antara 10 sentimeter hingga 1 meter. Pihak kepolisian pun diterjunkan untuk membantu persoalan ini.
Kapolres Pati AKBP Bakharudin Muhammad Syah selain menurunkan seluruh personel dalam menghadapi benjir, back up dari Polda Jateng juga diberikan untuk membantu. ”Selain personel yang ada di Pati sebanyak 1.250, kami juga mendapat dukungan dari Polda Jateng sebanyak 150 personel,” ungkapnya. (sya/aji/ida)