Tanah Bergerak, 27 Rumah Rusak

109

BATANG — Bencana akibat tanah bergerak tak cuma terjadi di Semarang. Di Batang, sebanyak 27 rumah di Dukuh Jumbleng, Desa Kemiri Barat, Kecamatan Subah, mengalami kerusakan berat. Penyebabnya, tanah yang ditempati warga tiba-tiba bergerak, pada Jumat (24/1) siang kemarin.
Kerusakan juga menimpa masjid desa setempat. Kemarin, sebagian besar warga melakukan salat Jumat di halaman masjid, karena kondisi tembok bangunan masjid retak-retak.
Tiga hari sebelumnya, warga telah merasakan adanya tanah bergerak. Namun, kondisinya tidak separah pada Jumat (25/1) siang kemarin. Sepanjang jalan di Dukuh Jumbleng, Desa Kemiri Barat, banyak ditemui jalan yang mengalami retak-retak. Lebar keretakan 10 hingga 20 sentimeter.
Ketua RT 01 RW 04 Desa Kemiri Barat, Darus, 45, menuturkan, akibat bencana tersebut, pintu dan jendela rumahnya tidak bisa lagi digunakan. ”Kayu pintu dan jendela juga retak, karena tertimpa sebagian tembok ruang tamu.” Ia berharap Pemkab segera membantu warga. ”Kami berharap, bantuan bisa diberikan. Baik dalam wujud material maupun uang.”
Kepala Dusun Jumbleng, Desa Kemiri Barat, Supeno menjelaskan, tanah bergerak terjadi selama dua hari berturut-turut, sejak Kamis (24/1) malam hingga Jumat (24/1) pagi. Menurut dia, kejadian seperti itu, sudah pernah terjadi, tujuh tahun silam. Bahkan, kerusakan yang ditimbulkan, lebih parah dari yang sekarang.
Kejadian yang sekarang, dari 27 rumah yang rusak, terparah rumah-rumah warga yang berada di wilayah RT 02 RW 04. ”Di RT 02 RW 04, ada 22 rumah yang mengalami kerusakan berat. Seperti fondasi rumah dan tembok mengalami retak-retak. Sementara lima rumah lainnya yang rusak, ada di RT 01 RW 05,” jelas Supeno.
Anggota Komisi D DPRD Batang, Zaenudin yang meninjau lokasi kejadian meminta Pemkab segera tanggap memberi bantuan.
Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang, Yesaya Simanjutak menuturkan, pihaknya sudah meninjau lokasi bencana.
Solusinya, warga harus direlokasi. Jika warga enggan direlokasi, ia khawatir kejadian serupa akan terulang. ”Tahun 2007, pernah terjadi tanah bergerak seperti tahun ini. Sampai saat ini, masyarakat yang minta untuk relokasi baru 8 kepala keluarga, dari 27 kepala keluarga.”
Yesaya menegaskan, dengan curah hujan yang masih tinggi, dikhawatirkan terjadi lagi musibah tanah bergerak. ”BPBD rekomendasinya relokasi warga.” (thd/isk/ce1)