MUNGKID– Sidang kasus pembunuhan Gustian Sigit Prasetyo, 19, warga Jetis Ponggol, Tamanagung, Muntilan yang berunjung bentrok antarwarga kembali digelar di PN Mungkid. Dua saaksi yang dihadirkan berasal dari unsur Polri. Dua saksi merupakan anggota Polsek Muntilan, masing-masing Heru Setiawan dan
Agung Pramono. Kedua saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) ZK Bagus CY itu kompak mengaku tidak tahu persis kronologis insiden berdarah yang merenggut nyawa korban di arena pentas musik organ tunggal di Ponalan, Tamanagung, Muntilan, 24 Agustus 2013 lalu.
Di hadapan hakim ketua Sulistiyanto RB, didampingi Murdian Ekawati dan Wahyu Sudrajad saksi Heru Setiawan mengatakan, saat kejadian dirinya berada di belakang deretan kursi tamu undangan di depan panggung. Ketika mendengar informasi ada keributan antara korban dengan terdakwa Arif alias Penyu, 22, warga Ponalan.
“Saya mencoba melerai keributan antara korban yang sedang adu mulut dengan terdakwa. Keributan terhenti, korban saya suruh pulang dan menurut,” kata Heru, yang ketika itu diperintah atasan untuk menjaga keamanan acara perayaan 17-an dan halal bihalal.
Tak lama kemudian korban datang lagi naik sepeda motor. Pada saksi, korban mengaku hanya ingin melihat hiburan. Karena itu, Heru segera menuju belakang panggung. Tak berselang terdengar keributan lagi di depan rumah seorang warga.
Waktu datang ke tempat kejadian, saksi melihat sebilah pisau dapur berlumuran darah. Sedang terdakwa dan korban tidak ada. “Saya segera beri police line dengan menggunakan tali rafia, kemudiaan melapor pada pimpinan,” kata Heru.
Keterangan sama diutarakan saksi M Agung Pramono di depan. Kesaksian itu dibenarkan terdakwa yang didampingi penasehat hukumnya, K Bagus Anang Widjaya dan Fachim Fahmi.
Sebagaimana diketahui, terdakwa Arif alias Penyu didakwa membunuh korban Gustian Sigit Prasetyo. Oleh JPU ZK Bagus CY, dia dijerat pasal berlapis. Dalam dakwaan primer kesatu, dijerat pasal 338 KUHP dan dakwaan primer kedua dengan pasal 354 ayat (2) KUHP. Dakwaan subsider melawan pasal 351 ayat (3) KUHP.
“Berdasar hasil visum dr Lipur Riyantiningtyas, dokter RSUP Dr Sardjito Jogjakarta tertanggal 18 September 2013, korban meninggal akibat luka tusukan pada bagian dada menembus paru-paru,” kata JPU ZK Bagus. (vie/lis)