Ditawari Pindah ke Rusunawa

203

Warga Trangkil yang Rumahnya Longsor
SUKOREJO — Pemkot Semarang tidak akan merelokasi 67 kepala keluarga (KK) warga Perumahan Trangkil Baru dan Trangkil Sejahtera, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, yang terkena bencana longsor. Pemkot hanya akan mengupayakan bantuan materi dan menawarkan kepindahan korban tanah ambles tersebut ke rumah susun sistem sewa (rusunawa).
”Untuk 32 rumah (dihuni 67 KK, Red) warga Trangkil Sejahtera, kita tidak ada relokasi, karena memang aturannya tidak memungkinkan untuk itu (Permendagri 32 tahun 2011 tentang hibah bansos). Yang akan kita lakukan ada dua hal, yakni memberikan bantuan dana melalui dana tanggap darurat dan yang kedua menawarkan mereka tinggal di rusunawa,” tegas Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi kepada Radar Semarang, kemarin (24/1).
Saat ini, pihaknya meminta satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait melakukan pendataan terhadap rumah warga yang mengalami kerusakan, baik kerusakan ringan, sedang, maupun berat. Bantuan akan diberikan sesuai klasifikasi kerusakan.
”Kita akan bantu dana, apakah nanti akan digunakan untuk mengontrak rumah lagi di daerah aman atau untuk perbaikan rumah di lokasi tersebut,” kata wali kota yang akrab disapa Hendi ini.
Disinggung mengenai zona permukiman tersebut apakah memang diperuntukkan perumahan atau masuk dalam kategori zona konservasi, Hendi menegaskan, pemkot telah memiliki peta wilayah yang terbagi beberapa zona.
”Saya yakin teman-teman tidak akan memberikan izin jika memang lahan tersebut merupakan zona konservasi. Itu kan perumahan, kalau ada izinnya, dipastikan kawasan tersebut bukan wilayah konservasi,” tandasnya.
”Mereka (warga, Red) membeli perumahan dari pengembang, dan memiliki sertifikat atas rumah tersebut, rasanya tidak adil tanggung jawab pengembang diserahkan ke pemkot,” tambahnya.
Hendi menambahkan, terkait status darurat bencana, pihaknya akan menggunakan dana tak terduga sebesar Rp 1 miliar untuk membantu para korban bencana.
”Secara aturan kita diperbolehkan memakai dana tak terduga, seperti perbaikan tanggul jebol dan jalan ambles di Trangkil Sejahtera. Untuk sementara kita akan pasangi trucuk, ke depan akan kita anggarkan untuk perbaikan permanen,” kata Hendi.
Kepala Dinas Tata Kota dan Perumahan (DTKP) Kota Semarang Agus Riyanto menyatakan, masih ada sejumlah rusunawa yang masih kosong. Ia mencontohkan rusunawa Kaligawe, masih ada 32 unit di lantai 4 yang masih kosong. Selain itu, di rusunawa Karangroto dan Kudu ada beberapa twin block yang masih kosong.
”Di Karangroto ada 2 blok, dan di Kudu ada 4 blok baru yang bisa ditempati. Tiap bloknya ada 96 unit kamar. Tapi saat ini masih belum ada listrik, nanti akan segera kita lengkapi fasilitasnya,” kata mantan Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air-Energi dan Sumber Daya Mineral (PSDA ESDM) Kota Semarang itu.
Terpisah, Ketua DPRD Kota Semarang Wiwin Subiono menyatakan, di kawasan Trangkil Sejahtera yang terkena longsor sudah tidak memungkinkan didirikan rumah lagi. Jika warga tetap bertahan di lokasi tersebut, dikhawatirkan peristiwa serupa akan terjadi lagi. Utamanya saat musim hujan dengan kondisi cuaca seperti ini.
”Otomatis mereka berharap kepada pemerintah terkait masalah tersebut. Mereka warga Kota Semarang, semestinya pemerintah memberikan solusi-solusi yang tepat. Terlepas nanti direlokasi di mana, menggunakan tanah pemerintah atau seperti apa, yang pasti ini menjadi tanggung jawab pemerintah,” ujar Wiwin.
Disinggung solusi relokasi yang selama ini tidak bisa diterapkan karena terbantur Permendagri 32, seperti halnya kasus relokasi warga Deliksari, Wiwin menyatakan, pemerintah harus berani mengambil sikap tegas untuk penyelamatan warganya.
”Ini posisinya terkena bencana, tidak bisa ditempati, kalau terpaku pada aturan repot. Selamanya terpaku Permendagri 32, tidak akan berjalan (penyelamatan warga, Red). Bukan masalah melanggar, tapi keberanian terhadap warga yang terkena bencana, sikap pemkot harus tegas,” tandas legislator asal Fraksi Demokrat ini.
Terkait status Semarang darurat bencana yang ditetapkan oleh wali kota, Wiwin berharap pemkot tidak gagap terhadap bencana. Artinya, status tersebut harus diiringi atau diimbangi dengan kesiapan fasiltias, sarpras, tanggap bencana.
”Konsekuensi dari darurat bencana ini, pemerintah harus siap dengan segala fasilitas pendukungnya. Seperti dana tanggap darurat harus segera digunakan untuk korban bencana,” ujarnya.
Sementara itu, pantauan Radar Semarang di Perumahan Trangkil Sejahtera kemarin, sebanyak 67 KK warga RT 6 dan RT 3 RW 10 yang tinggal di tenda pengungsian milik TNI hingga kemarin masih trauma. Mereka tak berani kembali ke rumah lantaran tembok rumah retak-retak sehingga berbahaya kalau dihuni.
Namun hampir semua warga yang rumahnya menjadi korban tanah ambles sudah memindahkan barang-barang berharga milik mereka ke tenda-tenda pengungsian. Seperti peralatan elektronik, pakaian, serta peralatan dapur. Sebagian warga juga mulai membongkar rumah mereka yang kondisinya membahayakan.
Palang Merah Indonesia (PMI) Semarang kemarin membuka posko kesehatan. Petugas PMI juga membagi-bagikan obat flu serta vitamin untuk ketahanan tubuh kepada para pengungsi.
Salah seorang warga, Rini, 28, mengaku takut kembali ke rumah, karena mengalami kerusakan parah di bagian pintu dan ruang tamu ambles. ”Kusen pintunya hancur, sehingga pintunya ambruk,” katanya.
Rini sendiri belum tahu sampai kapan akan tinggal di tenda pengungsian. ”Rumah masih rusak dan belum tahu kapan diperbaiki,” ucapnya pasrah.

Banjir 1,5 Meter
Sementara itu, bencana banjir kemarin masih menghantui warga Kota Semarang. Kali ini, terjadi di Perumahan Real Estate Tanah Mas dan Boom Lama, Kuningan, Semarang Utara. Bahkan, ketinggian air mencapai 1,5 meter. Sejumlah petugas Basarnas dan TNI dikerahkan untuk mengevakuasi warga menggunakan perahu karet.
Salah seorang warga Boom Lama, Rokhanah, 52, mengaku, ketinggian air di rumahnya mencapai 1,5 meter. Dia harus naik perahu karet petugas Basarnas saat menuju rumahnya. ”Kalau tidak menggunakan perahu karet, pakaian basah semua,” katanya.
Nita, 16, warga Perumahan Real Estate Tanah Mas mengaku ketinggian banjir di rumahnya mencapai 1 meter. Ia sempat meminta bantuan Basarnas untuk menjemput orang tuanya yang terjebak di dalam rumah. ”Kalau naik mobil jelas tidak bisa, karena airnya cukup tinggi,” katanya.
Meski banjir sudah surut, warga Jalan Sawah Besar, Kaligawe, Gayamsari kemarin mendirikan posko banjir untuk menghimpun bantuan. Sebab, sejak dilanda banjir, belum ada bantuan yang disalurkan kepada warga. ”Dulu ketika banjir selalu mendapatkan bantuan, tetapi sekarang kami belum mendapatkan bantuan apa pun,” keluh salah seorang warga, Yanti, 40.
Yanti mengaku, rumahnya sempat tergenang banjir hingga setinggi 1 meter. Sedangkan untuk surutnya sangat sulit, karena daerahnya merupakan cekungan. ”Banjir di sini ini sulit untuk surut, karena daerah cekungan,” katanya.
Terpisah, Kepala PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 4 Semarang Wawan Ariyanto mengatakan, kondisi rel KA di lintas Stasiun Alastua-Tawang Semarang belum bisa dilewati kereta api dengan normal akibat banjir.
”Satu track lama masih tergenang banjir dengan ketinggian air sekitar 15 sentimeter di atas permukaan rel,” kata Wawan Ariyanto, kemarin.
Dalam kondisi normal, katanya, sebenarnya ada dua track yang dioperasikan di lintas Stasiun Alastua-Tawang, yakni satu jalur lama dan satu jalur baru yang dibangun seiring proyek jalur ganda (double track). Namun jalur lama masih tergenang banjir di atas batas toleransi aman, sehingga tidak bisa dilewati KA, sementara kondisi jalur baru tidak tergenang karena letaknya yang lebih tinggi.
Praktis, hanya satu jalur yang bisa dilewati di lintas Alastua-Tawang sehingga KA mengantre untuk melewati jalur tersebut, dan menunggu di stasiun-stasiun sebelumnya, baik dari arah Barat maupun Timur.
”Untuk ketinggian banjir sudah surut. Kamis (23/1) lalu, tingginya sampai 23 sentimeter di atas permukaan rel, sekarang (Jumat, 24/1) ketinggian air sudah turun menjadi 15 sentimeter di atas permukaan rel,” jelasnya.
Wawan mengaku perjalanan KA yang melewati Kota Semarang, baik dari arah Barat maupun Timur masih mengalami keterlambatan karena harus mengantre untuk melewati lintas Alastua-Tawang yang tergenang banjir. Namun Wawan memastikan sebagian besar KA yang mengantre merupakan angkutan barang, karena KA penumpang lebih diutamakan untuk mengantisipasi agar keterlambatan perjalanan tidak terlalu lama. (zal/hid/aro/ce1)