RASA waswas masih terus membayangi warga Perumahan Trangkil Sejahtera dan Trangkil Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, pascabencana longsor yang melanda kawasan tersebut, Kamis (23/1) pagi lalu. Kondisi cuaca tak kunjung membaik, hujan terus mengguyur wilayah Kota Semarang, membuat puluhan warga korban longsor tidak berani kembali ke rumahnya. Mereka lebih memilih tidur di tenda pengungsian.
Ratusan warga yang sudah tinggal di tempat tersebut selama tiga tahun terakhir, hanya mampu menatap kosong. Rumah-rumah mereka yang telah dibangun dengan jerih payah, kini rusak parah, bahkan ada yang rata dengan tanah dan tak bisa ditempati kembali. Peristiwa longsor ini adalah yang pertama terjadi.
Raut muka sedih, bingung, dan waswas menyelimuti wajah para korban longsor Trangkil, saat koran ini mendatangi tenda pengungsian yang berdiri tidak jauh dari lokasi longsor. Siang itu, banyak warga yang menghabiskan waktu untuk beristirahat, tiduran di tenda.
Ada yang duduk termenung meratapi nasib rumahnya yang ambrol. Sesekali di antara mereka mengecek kondisi rumah yang ditinggalkannya. Ada juga yang sekadar mengambil barang-barang berharga yang masih berada di dalam rumah. Sejuta harapan ditumpahkan kepada Pemkot Semarang agar bisa membantu relokasi warga yang ke tempat yang aman.
Sambil berkaca-kaca, Sukarman, 43, salah satu warga Perumahan Trangkil Baru menceritakan, rumah-rumah di perkampungan tersebut dibangun sejak 2010 lalu. Sebelumnya, ratusan warga yang tinggal di lokasi tersebut adalah warga eks daerah Tarupolo, Jalan WR Supratman. Namun karena ada suatu hal, mereka terpaksa pindah dari tempat semula itu ke lokasi Trangkil Semarang.
”Kita semua tadinya tinggal di daerah Tarupolo, Jalan WR Supratman, tapi karena tanah yang kami tempati sengketa dengan pemerintah, akhirnya ditawari pindah di sini dengan membeli kapling tanah kepada pihak pengembang,” ceritanya.
Tanah itu, imbuh Sukarman, kemudian didirikan bangunan-bangunan rumah oleh warga. Bahkan, tidak sedikit warga yang membawa konstruksi rumah mereka dari WR Supratman untuk dipindah ke lokasi baru itu.
Namun belum juga bisa tenang akibat ’pengusiran’ dari tempat semula, mereka kini dihadapkan dengan musibah yang tak kalah pelik, longsor. Musibah tersebut seolah menjadi cobaan lanjutan, di saat mereka mulai menata kehidupan kembali setelah peristiwa ’pengusiran’ itu.
”Kami tidak tahu harus bagaimana lagi, cicilan tanah di sini saja belum lunas, sekarang rumah sudah rusak akibat longsor ini,” imbuh Sukarman sambil mengusap air mata.
Warga Kampung Trangkil Baru kini hanya bisa pasrah dengan kondisi saat ini. Dalam beberapa hari, mereka memutuskan tinggal di tempat pengungsian yang telah disiapkan.
”Tidak tahu apakah bisa kembali menempati rumah itu atau tidak, soalnya kami trauma dengan longsor ini. Jadi, untuk membangun kembali rumah menjadi malas, takut kalau longsor kembali terjadi,” kata Agus, 46, warga lainnya.
Kini, Agus mengaku hanya bisa pasrah meratapi nasib. Ia tidak tahu bagaimana hidupnya nanti pascamusibah longsor yang meluluhlantakkan tempat tinggalnya itu. ”Saya tidak tahu, ya mungkin memulai lagi dari awal, membangun rumah ala kadarnya di lokasi itu,” imbuhnya.
Meski begitu, Agus mengaku khawatir dengan kondisi tanah di kawasan itu. Sebab, kontur tanah di kawasan tersebut labil, sehingga musibah longsor dimungkinkan akan kembali terjadi.
”Ya meski tahu jika musibah longsor pasti akan terjadi lagi, tapi kami tidak bisa pindah dari lokasi ini. Ndak ada pilihan lain, punyanya di sini. Kalau punya uang cukup, kami juga pasti akan pindah dari sini,” katanya.
Dari data di lapangan, ada sekitar 60 KK (kepala keluarga) warga Trangkil Baru RT 6 RW 10 dan 7 KK warga Trangkil Sejahtera RT 3 RW 10 yang mengungsi tenda-tenda yang disediakan tak jauh dari titik bencana. Mereka berharap pemerintah bersedia merelokasi ke tempat yang lebih aman. Warga mengaku trauma dengan peristiwa yang terjadi pada Kamis (23/1) pagi itu.
Sugiarti, 35, warga RT 6 RW 10 bahkan enggan kembali menghuni lokasi yang baru dua tahun ditempati tersebut. ”Saya ndak mau kembali lagi. Kalau bisa pemerintah juga ikut membantu mencari lokasi baru, yang penting kami bisa ngeyup (berteduh) itu saja,” harapnya.
Sugiarti dan warga pendatang lainnya mengakui, tidak pernah menyangka hunian mereka bakal ambles seperti sekarang. Dua tahun lalu, dia membeli tanah kapling seluas 6×12 meter seharga Rp 15 juta. Dia berharap pemerintah juga bersedia memberi uang tali asih untuk membangun rumah di lokasi baru.
Sukarman juga punya keinginan serupa. Jika pemerintah menyarankan untuk pindah, kata dia, sebaiknya juga memperhitungkan aset yang dimiliki warga. ”Kalau ada ganti ruginya, saya siap untuk pindah. Bagaimanapun kami juga sudah keluar biaya cukup banyak untuk membangun rumah di sini,” katanya.
Lurah Sukorejo Sukidi mengatakan, ada wacana pemkot akan memindahkan warga ke lokasi baru yang lebih aman. ”Memang ada wacana untuk membuat hunian sementara di tanah Pramuka. Tapi, realisasinya masih menunggu hasil rapat selanjutnya,” katanya di sela pendataan warga yang terkena bencana.
Sukidi belum bisa memastikan apakah lokasi yang akan dijadikan hunian sementara itu selanjutnya akan dipermanenkan. Menurutnya, hal itu akan dibahas dalam pertemuan yang melibatkan warga dan Pemkot Semarang.
”Kalau melihat kondisinya memang tidak memungkinkan lagi untuk ditempati. Kontur tanah di sini memang labil, sehingga dikhawatirkan akan terjadi longsor lagi,” kata Sukidi.
Pernyataan Sukidi berbanding terbalik dengan statamen wali kota yang menyatakan tidak ada relokasi bagi warga Trangkil. Pemerintah hanya akan melakukan dua hal, yakni memberikan bantuan dana untuk perbaikan maupun kontrak rumah di daerah aman dan menawarkan tinggal di rusunawa.
Seperti diketahui, hujan deras yang mengguyur Semarang sejak Rabu (22/1) malam hingga Kamis (23/1) mengakibatkan 32 rumah di Perumahan Trangkil Baru RT 6 RW 10 dan tujuh rumah di Trangkil Sejahtera RT 3 RW 10 ambles. Sebagian besar bangunan mengalami kerusakan parah bahkan beberapa di antaranya rata dengan tanah. Berdasarkan data BPBD Kota Semarang, di saat hampir bersamaan longsor juga terjadi di Sendangmulyo (dua kejadian), Bongsari, Tambakaji (dua kejadian) serta masing-masing satu kejadian di Jomblang, Tegalsari, Kembangarum, dan Lempongsari. (rizal kurniawan/aro/ce1)