PEKALONGAN–Evelyn, balita usia 2 tahun putri pasangan Ahmad Zaeni, 27, dan Indawati, 24, merupakan salah satu korban bajir yang terpaksa menetap di pengungsian Masjid Al-Karomah Tirto. Balita ini sempat sakit demam dan muntah-muntah selama 3 hari di pengungsian. Rabu (22/1) lalu ia dibawa ke RSUD Bendan Kota Pekalongan. Korban banjir ini dipungut biaya pengobatan karena orangtuanya tidak memiliki kartu jaminan kesehatan masyarakat atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan.
Indawati menceritakan, setelah diperiksa dokter, pihak rumah sakit memberikan resep obat untuk ditebus. Tapi saat akan diambil, ternyata tidak bisa karena ia tidak memiliki uang Rp 100 ribu untuk menebus obat. Indawati sudah menjelaskan bahwa ia dan Evelyn merupakan korban banjir yang mengungsi di masjid Al-Karomah. Tapi pihak RSUD Bendan tetap bersikukuh memungut biaya pengobatan.
“Saya kaget ketika mengambil obat, saya harus bayar Rp 100 ribu, karena tidak punya uang, akhirnya saya pinjam Ibu saya, Mulyati, yang juga ikut mengantar,” ungkap Indawati. Kamis (23/1) ia baru pulang dari pengungsian dan kembali ke rumahnya di Kelurahan Pasirsari RT 06 RW 06, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan.
Dijelaskan lebih lanjut, dokter sebenarnya menyarankan agar Evelyn menjalani rawat inap. Tapi karena tak memiliki biaya, akhirnya ia tetap membawa putrinya pulang. ”Dokternya berulang kali menyarankan agar anak saya diopname,” kata Indawati.
Ahmad Zaeni menambahkan, ketika mendaftar di RSUD Bendan, ia sempat ditanya oleh petugas rumah sakit, apakah punya kartu Jamkesmas, Jamkesda, maupun kartu BPJS Kesehatan. “Saya katakan apa adanya, tak punya kartu Jamkesmas maupun Jamkesda, dan kartu BPJS juga belum ada, karena masih dalam proses.” jelas Zaeni.
Atas kejadian yang menimpa putrinya tersebut, Zaeni akhirnya melapor ke Camat Tirto ketika meninjau posko pengungsian di Masjid Al-Karomah. Zaeni menilai, pungutan biaya tersebut tidak bijaksana karena ia merupakan warga miskin yang sedang terkena musibah. “Pak Camat sudah tahu masalah ini, dan berjanji akan menguruskan supaya uang yang tadi sudah dibayarkan bisa kembali. Kuitansi pembayaran dari RSUD Bendan juga diminta Pak Camat,” kata Ahmad Zaeni.
Kasubbag Umum dan Kepegawaian RSUD Bendan Arif Mahanani saat dikonfirmasi, menyampaikan bahwa kejadian yang menimpa Indawati karena ada salah komunikasi. “Mungkin petugas yang menangani, apakah itu di IGD atau di ruang farmasi, tidak tahu kalau pasien tersebut merupakan pengungsi korban banjir. Sebenarnya tidak bayar, mungkin ada salah komunikasi dari petugas kami,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Sementara itu, salah seorang warga Pekalongan Muhamad Lutfhi, 48, mengaku prihatin dan miris ketika mengetahui ada warga miskin korban banjir yang ditarik biaya berobat. Menurutnya, bukan masalah nilai uang Rp 100 ribu, namun kebijakan tersebut sangat tidak manusiawi. ”Terlepas dari apapun, apakah warga itu punya Jamkesmas, Jamkesda, atau tidak, sikap rumah sakit yang menarik biaya pengobatan dari korban banjir itu patut disayangkan,” tegas Lutfhi yang kemudian mengganti biaya pengobatan yang diterima langsung oleh Zaeni di depan rumahnya. (thd/ton)