Dampak banjir yang terjadi di Kota Semarang dalam dua pekan ini begitu hebat. Meski tak separah Jakarta, namun banjir merata hampir di separo kecamatan di wilayah Kota Atlas.
Banjir yang terjadi Kamis (23/1) kemarin, tak hanya merendam jalan, stasiun, dan permukiman warga. Tapi, juga markas kepolisian. Seperti yang terjadi di Mapolsek Semarang Utara. Genangan air yang masuk ke dalam ruang tahanan memaksa jajaran Polsek Semarang Utara mengungsikan tahanan.
Sebanyak 15 tahanan Polsek Semarang Utara tersebut kemudian diungsikan ke ruang tahanan Mapolrestabes Semarang. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi agar tahanan tidak sakit lantaran terendam air.
”Ruang tahanan tergenang air setinggi 30 sentimeter. Sedang di halaman mencapai 50 sentimeter. Jadi kami mengambil langkah tersebut (mengungsikan, Red),” kata Kapolsek Semarang Utara, Kompol Budiman Gultom kemarin.
Langkah tersebut diambil melihat kondisi air yang semakin meninggi. Bahkan, menurutnya, tingginya hampir mencapai tempat tidur para tahanan. Sebelum memutuskan untuk mengungsikan tahanan, Kapolsek lebih dahulu memberitahu kepada atasan, yakni Kapolrestabes Semarang. Oleh Kapolrestabes, langkah tersebut kemudian direspons baik.
”Kapolrestabes langsung mengirim pasukan Dalmas untuk membantu mengevakuasi tahanan dan membawanya ke Mapolrestabes,” ujarnya.
Pemindahan tahanan tersebut akan dilakukan hingga air yang menggenangi Mapolsek Semarang Utara surut. Selain itu, upaya pemindahan tahanan juga sebagai bentuk jaminan hak-hak tersangka selama proses penahanan. ”Itu jaminan hak mereka. Kalau sakit, beban kita semakin bertambah,” paparnya.
Banjir yang terjadi selama hampir dua pekan ini juga memaksa Pemkot Semarang memberlakukan libur total bagi sejumlah sekolah yang terendam air.
”Beberapa sekolah di wilayah Kecamatan Semarang Utara dan Kecamatan Genuk diliburkan akibat banjir,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin kepada wartawan.
Sejumlah sekolah yang dihentikan dari aktivitas belajar dan mengajar di antaranya SMK Wira Samudera di Kecamatan Semarang Utara, SDN Kemijen 03 di Jalan Cilosari Barat RT 03 RW VII Kemijen Semarang Timur, SMPN 34 Semarang, SDN Muktiharjo Kidul 1 Semarang, dan SDN Gebangsari 1 dan 2 di Kecamatan Genuk. Selain sekolah itu, taman-kanak-kanak di wilayah rawan banjir juga diliburkan.
Menurut Bunyamin, libur itu bersifat sementara, dengan pertimbangan menjaga keselamatan siswa, terutama siswa usia taman kanak-kanak dan dasar. ”Kebijakan ini fokus demi keselamatan siswa di daerah yang rendah dan terbiasa terkena banjir,” ujar Bunyamin.
Bunyamin mencatat 14 SD di Kota Semarang dinyatakan rawan banjir karena berada di wilayah yang rawan bencana luapan air. Sekolah tersebut tersebar di Kecamatan Tugu, Semarang Timur, Semarang Utara, Pedurungan, Genuk, Semarang Barat, dan Gayamsari. (har/aro/ce1)