Desa Terendam Banjir Terus Bertambah

146

DEMAK-Jumlah desa di wilayah Demak yang terendam banjir hingga kemarin (23/1) terus bertambah. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, di Kecamatan Sayung, banjir sebelumnya merendam rumah warga di Desa Sayung telah merambah desa sekitarnya. Seperti, Desa Purwosari, Prampelan, dan Tambakroto. Banjir terjadi akibat meluapnya Sungai Penceng dan Sungai Seruni serta saluran pembuang (afur) Mranggen-Onggorawe yang berada di wilayah Desa Prampelan dan Tambakroto. Selain rumah, air menenggelamkan area persawahan, dan tambak warga.
Kepala BPBD Demak, Bambang Saptoro mengatakan, karena banjir di Kecamatan Sayung kembali terjadi, maka petugas BPBD yang semula dikerahkan ke Kecamatan Wedung akhirnya sebagian ditarik untuk ikut mengevakuasi warga di Sayung. Kondisi banjir yang semakin meluas juga masih terjadi di Desa Tedunan, Kecamatan Wedung. Di kampung itu, warga masih berada di titik pengungsian di Desa Mutih Kulon dan tanggul sungai. Jumlah pengungsi dari Desa Tedunan mencapai 3.700 jiwa. Mereka tersebar di masjid, musala, sekolah, rumah tetangga yang tinggi dan lainnya.
Tercatat ada 4 orang warga yang sakit akibat banjir, yakni dua orang dewasa dan 2 lainnya anak-anak. Mereka sudah dirujuk ke puskesmas Wedung. Banjir juga meluas di Desa Kedungkarang dan Kedungmutih. Garam milik petani juga ludes. Di Desa Mijen dan Desa Pecuk, air terus meninggi hingga 70 cm. Jumlah pengungsi di Desa Mijen mencapai 691 orang dewasa dan 50 balita yang tersebar di beberapa lokasi, yakni masjid, sekolah, balai desa dan lainnya. Sedangkan, di Desa Pecuk jumlah pengungsi mencapai 824 jiwa orang dewasa dan 87 balita. “Dapur umum terus kita fungsikan,” kata Bambang.
Di Kecamatan Karanganyar, selain merendam 700 rumah, banjir juga melanda Desa Wonorejo. Di desa ini, tercatat ada 1.700 rumah dan 200 hektare sawah terendam air dengan ketinggian air 50 cm. Penduduk di kampung tersebut hingga kemarin belum mau dievakuasi.
BPBD telah kehabisan stok karung yang digunakan untuk peninggian tanggul. Setidaknya, 25 ribu karung ludes dipasok ke desa-desa yang terkena banjir tersebut. Karena habis, BPBD minta bantuan karung ke Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Provinsi Jateng.
Sementara itu, di tengah peristiwa banjir dan hujan yang terus mengguyur Demak, warga sempat termakan isu menyesatkan yang disebarkan lewat pesan pendek (SMS). Warga resah karena Kota Demak dikabarkan akan banjir lantaran pintu Waduk Kedungombo dibuka semua untuk menggelontorkan air ke daerah tersebut. Bahkan, petugas BPBD sampai kewalahan menampik isu tersebut yang banyak ditanyakan oleh warga.
Petugas posko BPBD Demak, Agus Budiyono mengatakan, dari pagi hingga siang kemarin, warga tak henti-hentinya menghubungi petugas di kantornya itu. “Banyak sekali warga yang tanya dan khawatir terkait gelontoran air Waduk Kedungombo. Karena itu, kita jelaskan pada warga bahwa isu tersebut tidak benar. Kondisi Waduk Kedungombo masih aman,” katanya
Berdasarkan informasi dari petugas pintu air Bendung Klambu, Grobogan, air dari Waduk Kedungombo mencapai 564 kubik perdetik. Kondisi tersebut, kata dia, akan menjadi siaga setelah berada di posisi 600 meter kubik perdetik. “Ini karena banyak tanggul sungai di Demak yang kritis,” katanya. (hib/ton)