Pembiayaan UMKM Masih Rendah

142

SEMARANG – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong perekonomian Indonesia. Sayangnya banyak pelaku UMKM belum tersentuh oleh pembiayaan dari perbankan.
Penegasan ini disampaikan. Ekonom CIDES Umar Juoro dalam workshop ”Final Inclusion- Peluang dan Tantangan Pembiayaan Mikro 2014” di Hotel Oak Tree Semarang, kemarin. Rendahnya penetrasi pembiayaan kepada pelaku UMKM dapat dilihat dari data Bank Indonesia (BI) per Desember 2012 menunjukan pembiayaan bank ke sektor UMKM Rp 526,4 triliun atau sekitar 19 persen dari total penyaluran kredit bank senilai Rp 2.707,86 triliun.
”Dari angka tersebut menunjukan penetrasi pembiayaan ke pelaku UMKM khususnya mikro masih sangat rendah,” jelas Juoro.
Rendahnya penetrasi ini, lanjut Juoro disebabkan oleh kurang kemampuannya pelaku usaha mikro dalam melakukan pencatatan dan pengelolaan uang. Bahkan UMKM beranggapan. Berhubungan dengan bank sangat rumit. Selain itu para UMKM juga memiliki rasa tidak percaya diri untuk mengembangkan usaha. Namun di sisi lain bank kerap melihat sektor mikro terlalu berisiko dan berbiaya tinggi.
Melihat kondisi ini dibutuhkan inovasi, agar keuangan inklusif bisa berjalan. Untuk itu terbukanya akses layanan jasa keuangan kepada pelaku usaha mikro sangat penting dalam meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesejahteraan. ”Pemberian pinjaman modal saja tidak cukup, tetapi dibutuhkan pendampingan dan peningkatan kapasitas bagi para pelaku UMKM,” tambahnya.
Sementara itu Daya Head BTPN David Freddyanto mengungkapkan PT Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk (BTPN) tetap fokus dan konsisten menggarap pasar masyarakat berpenghasilan rendah serta UMKM (mass market). Menurutnya mass market bukan hanya membutuhkan akses keuangan, tetapi juga pelatihan dan pedampingan. Untuk meningkatkan kapasitas yang pada akhirnya mendorong usahanya untuk bertumbuh secara berkelanjutan.
BTPN dalam rangka mendorong pertumbuhan UMKM ini, mengembangkan program Daya. Melalui program Daya, lanjut David, BTPN tidak hanya membuat nasabahnya memiliki akses finansial, namun juga membuat nasabahnya melek finansial. ”BTPN optimistis dengan pendampingan yang dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan akan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan UMKM hingga 65 persen. Hal ini tentunya akan berdampak pada kualitas kredit dan layalitas debitur,” tandas David. (tya/smu/ce1)