PRINGAPUS- Jalan Syech Basarudin yang menghubungkan Kecamatan Bergas dengan Desa Pringapus rusak parah. Banyak lubang dan aspal yang mengelupas. Bahkan beton penutup gorong-gorong saluran air di bawah jalan ambrol karena tidak kuat menahan beban kendaraan yang melintas.
Padahal jalan tersebut termasuk padat lalulintas karena berada di kawasan industri. Setiap hari ribuan pekerja pabrik menggunakan sepeda motor maupun angkutan serta truk kontainer melintas di jalan tersebut. Sehingga kerusakan jalan mengakibatkan terganggunya aktivitas masyarakat dan rawan kecelakaan lalu lintas.
Pantauan Radar Semarang, kerusakan jalan hampir merata dari pertigaan Polsek Bergas hingga Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus. Paling parah beton penutup gorong-gorong di jalan tersebut ambles dan ambrol.
Beberapa warga memanfaatkan kemacetan yang terjadi mengatur lalu lintas di titik kerusakan dengan meminta imbalan seikhlasnya. Warga mengeluhkan kondisi jalan yang rusak dan meminta Pemerintah Kabupaten Semarang segera memperbaiki. “Sepanjang jalan itu sudah lama rusak, banyak lubang dan aspal yang terkelupas berbentuk memanjang. Seperti di kawasan Jangkang dekat kebun Karet,” ujar Ari Munanto, 39, warga Gang Petruk, Desa Klepu, Kecamatan Pringapus, Rabu (22/1).
Ari melanjutkan, selain pengendara tidak nyaman saat melintas, kerusakan jalan tersebut kerap menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Ari mencontohkan, pengendara mencoba menghindari lubang, tetapi malah celaka karena tertabrak kendaraan dari arah berlawanan. Bahkan sering kali ada pengendara yang terperosok karena tidak melihat ada lubang di jalan.
“Itu jalan Kabupaten, kami harap segera ada pengaspalan ulang, sebab membahayakan masyarakat,” imbuh Ari.
Senada dikatakan Moh Rohim, 40, warga Wonorejo, jalan di atas saluran air yang ambles itu sebenarnya baru selesai diperbaiki sebulan lalu. Ada kemungkinan pengecoran penutup gorong-gorong tidak kuat menahan beban kendaraan sehingga ambles lagi. Rohim mengatakan beban paling berat yang melintasi di jalan tersebut adalah truk kontainer yang mencapai 35 ton.
“Kemungkinan besinya kurang rengket, adonannya juga kurang semen dan batu split. Atau karena beton belum cukup umur sudah dilewati kendaraan berat,” kata Rohim saat ditemui di lokasi ambrolnya jalan tersebut. (tyo/ton)